Sabtu, 05 Juli 2014

Satu Suara Untuk Nomor 1




“Emas belum tentu gemerlap,
                Tak semua pengembara tersesat;
Yang tua tapi kokoh akan bertahan tetap,
                Akar yang tertanam dalam akan bertahan kuat.
Dari abu akan menyala api,         
                Dari bayangan akan muncul cahaya;
Mata pisau yang patah akan diperbaharui,
                Yang tidak bermahkota ‘kan kembali menjadi raja.”
Aragorn,,,-oleh Gandalf tokoh fiksi The Lord of The Ring

Setiap orang memiliki kriteria tersendiri dalam memilih pemimpinnya. Terlebih mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Namun dalam pesta demokrasi lima tahunan ini dengan segala prosesnya menyisakan empat orang terbaik yang dimiliki bangsa ini.

Walaupun pada akhirnya menyisakan dua pasang kandidat, pemilih masih mempunyai pilihan ketiga, yaitu memilih untuk tidak memilih dalam kata lain Golput. Awalnya pilihan ini yang akan saya ambil. Namun perdebatan di social media kian memanas tiap harinya, akun-akun yang menjadi teman saya pun membahas hal ini secara massive.

Hingga pada akhirnya menghantarkan saya sedikit lebih dekat pada masing-masing kandidat. Saya pun menilai kedua sosok ini sebagai berikut : Pak Jokowi yang menurut saya adalah sosok masa kini, sosok baru yang bersih dari kabut masa lalu dengan Pak Prabowo yang merupakan orang dari masa lalu dengan segala keburukan yang melekat erat pada punggung beliau.

Membahas dan mengenal Pak Jokowi bukanlah hal yang sulit walaupun bukan berarti mudah, mengingat pemberitaan tentang beliau sering kita jumpai pasca keberhasilannya dengan mobil Esemka juga pemindahan pedagang kaki lima sekian tahun yang lalu. Sehingga siapa sih yang tidak mengenal beliau dan prestasinya?

Sementara itu pilihan lain menyodorkan kita pada sosok Prabowo Subianto, seseorang yang berasal dari kabut keremangan masa-masa yang telah lalu. Di mana sebagian pemilih pemula ketika peristiwa tahun 90an hanyalah anak-anak yang belum mengerti luasnya dunia.

Namun setelah beberapa pertimbangan dengan segala keterbatasan saya dan kekurangan beliau saya memilih #PrabowoHatta untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan masa Bapak Susilo Bambang Y. ;

Alasan saya memilih beliau saya akui tidak bisa secerdas maupun sekritis alasan-alasan yang kawan-kawan paparkan. Namun itulah system yang ada sekarang ini di mana satu suara orang biasa setara dengan satu suara para cendekiawan maupun orang-orang dengan segudang prestasi lain. Diantara beberapa alasan tersebut adalah :

Saya percaya kedua pasang kandidat memiliki arah kepada #SelamatkanIndonesia, namun tujuan ini lebih melekat pada sosok kandidat nomor satu dengan jargon “Indonesia Bangkit”. Latar belakang Bapak Prabowo yang pernah lama tinggal di luar negeri sana saya yakin bahwa itu memberikan pandangan bahwa Indonesia belumlah berdiri dengan kaki sendiri. Tak perlulah saya rinci maksud belum berdiri dengan kaki sendiri tersebut.

Selain itu mempelajari tentang sosok Pak Prabowo mengharuskan kami sebagai generasi muda membuka kembali lembar-lembar sejarah yang mulai kusut oleh berbagai sudut pandang yang kian menebal seiring berjalannya waktu. Kita dapat belajar mengenai peristiwa seputar reformasi, kegagahan Kopassus, buruknya kondisi bangsa saat itu. Lalu mempelajari pandangannya menjadikan kita bangga sebagai bangsa terbesar keempat di dunia. Walaupun sebagian orang menganggap kebocoran yang beliau utarakan hanya hayalan belaka.

Latar belakang sebagai militer yang disandang beliau menjadi nilai tambah bahwa nasionalisme yang tinggi ada pada diri beliau. Lihatlah betapa tegasnya beliau saat mengatakan tidak sejengkalpun bagian dari NKRI akan jatuh pada tangan-tangan lain.

Dan beberapa alasan lain yang tidak perlu saya lampirkan di sini karena niatan saya bukan untuk mempengaruhi mereka yang berbeda pilihan.
Sayapun tak berharap Bapak Prabowo akan menepati semua janji-janjinya, tapi saya menagih bapak untuk memperjuangkannya

Dengan ini Insya Allah saya yakin untuk menyumbangkan satu suara untuk no. 1 pada 9 Juli. Menuju #IndonesiaSatu. Sekalipun mereka berkata hanya KECURANGAN yang mampu menghantarkan Prabowo Hatta untuk mendapat mandat rakyat.

Tidak semua emas bersih, ia tetaplah emas walau berada dalam kubangan lumpur.


Ket : Gambar yang dipakai pada tulisan di atas berupa URL

Minggu, 25 Mei 2014

My Dear Frodo

Di antara sedikit kisah fantasi yang mendunia, Lord of The Ring adalah kisah yang paling berbekas bagiku.





Sejak kelas 5 atau 6 SD hingga saat ini masih belum bosan-bosan melihat film yang digarap Peter Jackson itu.

Jika dibandingkan Harry Potter yang lebih terkenal di kalangan teman-teman. LoTR memiliki satu keutamaan yang tak ada pada kisah kisah kepahlawanan lain.

Hari Potter, Narnia bercerita tentang bagaimana seseorang mendapatkan kebesaran yang dapat ditakar dengan ukuran.
Edmund dan siblings-nya menjadi raja Narnia seperti sebagaimana yang dikatakan sebuah Nubuat bahwa Narnia akan damai jika dipimpin putra putri Adam.

Harry Potter lain lagi disaat dia masih bayipun kejadian luar biasa sudah menyertainya sehingga bab awal novel 'The Soccerers Stone' berjudul 'A Boy Who Survive'. Selain daripada itu ayah dan ibunya memang penyihir yang hebat.

Sedangkan LoTR untuk menyingkirkan kegelapan yang berusia ribuan tahun memilih menggunakan Frodo Baggins, seorang Hobbit yang tidak spesial bahkan dikalangan Hobbit sendiri. Orang tua Frodo meninggal 'hanya' karena tenggelam. Bilbo jauh lebih spesial daripada Frodo.

Itulah yang extra ordinary dari LoTR, Tolkien memilih Frodo yang from nothing to something dalam perjalanannya, istilah from zero to hero tidak tepat. Karena Frodo tidak memiliki kebesaran yang dapat diukur. Gandalf atau Aragornlah yang mungkin akan dipilih penulis lain untuk mengemban tugas itu.

Itulah keindahannya...

Minggu, 20 April 2014

Tentang UN 2014

                  Sebenarnya entah harus mulai dari mana untuk menulis tentang Ujian Nasional 2014 kemarin. Mungkin ada benarnya jika ujian pada tahun ini begitu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Terlebih saat ku lihat di social media terutama twitter. Bagi temen-temen yang belum lihat gimana keluhannya, cari Googling aja pasti bakal ketemu.

Aduh Gimana Nihhh

Mayoritas kawan-kawan kita mengeluhkan sulitnya mata pelajaran Ekonomi, Matematika, Kimia dan Fisika. Nah, mereka beralasan begitu karena ternyata soal yang keluar tahun ini berbeda dengan soal yang biasa kita-kita dapetin entah itu di lembaga bimbingan maupun pendalaman materi dari sekolah.

Ada lagi yang bilang kalau soal UN terutama matematika kemarin bertaraf Internasional karena mengadopsi soal dari PISA (Klik) ataupun setara dengan OSN (klik).

Hal itu pun telah ditanggapi menteri pendidikan kita bapak Mohammad Nuh dalam account twitter beliau @Mohammad_Nuh_ beliau menyatakan 5 point dari keluhan ratusan siswa.

1.Adik2 yg ikut , terima kasih atas respons tentang tingkat kesulitan soal.
2.Jika ada soal yg dirasa sulit, hal itu wajar karena selalu ada soal baru dalam setiap ujian. Ini salah 1 esensi   ujian.
3. Di tahun-tahun sebelumnya juga selalu ada siswa/i yg merasa kesulitan karena mendapat soal yg baru.

4.Soal baru adalah soal yg blm pernah adik-adik temui itemukan dalam soal-soal latihan.
5.Kami yakin soal baru tersebut dpt dikerjakan dg benar o/ adik2 yg sudah belajar tekun, meski dirasa sulit.

Jawaban yang datang dari bapak Menteri sangat mengecewakan sebagian pihak. Mungkin banyak yang sakit hati.

Bagi saya sendiri tingkat kesulitan pada Ujian Nasional kemarin masih dapat diterima. Eh bukan saya sombong atau menganggap soalnya mudah, untuk matematika sendiri hanya bisa jawab enam belas soal. (Karena untuk beberapa SKL memang sengaja tidak mempelajarinya.)

Harusnya yang berkata begini adalah mereka yang mempelajari intisari seluruh SKL. Jika tidak percaya coba buka buku dan cari lagi soal-soal UN kemarin. Pasti bisa. Toh tuduhan bahwa soal tidak sesuai SKL bagi saya ga benar.

Untuk soal yang disajikan-pun belum taraf internasional (eh). Kalau kalian pernah coba soal-soal di OSN atau EJU (Klik) maka soal kemarin masih dibawahnya. Karena saat coba soal-soal itu saya ga tau sama sekali maksudnya. Jangankan ngerti mah,,, bingung aja enggak.

Jika pada UN kemarin kalian bingung itu kan tandanya hampir mengerti.Untuk yang dari PISA masih sangat belum aplikatif dibandingkan dengan soal PISA untuk umur 15 tahun ke bawah.

Adalagi yang berkata akibat soal yang terlampau sulit akhirnya menomor duakan kejujuran dengan melihat bocoran kunci jawaban. Ini yang rada miris,,, kejujuran dilakukan hanya pada saat dia di zona aman. Begitu keluar....???

 Menurut kalian gimana???


Lulus ya...
20  April 2014

Sabtu, 12 April 2014

UN Jujur Hebat


           Ada yang menganggap UN itu akhir, ada pula yang beranggapan UN itu awal. 
Entah awal maupun akhir jika jujur kan lebih baik...

Jujur di sini bisa diartikan dengan jujur mengerjakannya sendirian tanpa bantuan-bantuan yang jelek bagi sebagian orang. Namun, jika diartikan jujur untuk tidak malu mengungkapkan metode apa yang kita pilih saat mengerjakan UN juga bisa.
Ga Gini Juga Kali

Sederhananya ya jika kita membeli dan memakai kunci jawaban, maka jujur saja tidak perlu ditutup-tutupi. “Ah ngawur kamu, kalau ketahuan pengawas kan bisa bahaya.”
Ya ga perlu juga beri tahu ke pengawas. Mereka kan Cuma bertugas meningkatkan kualitas, aksebilitas, dan kredibilitas penyelenggaraan Ujian Nasional.

Maksudnya coba jujur mulai dari diri sendiri. Kita malu atau enjoy dan bangga memakai kunci jawaban sekalipun hanya untuk pengangan. Kalau bangga sih Alhamdulillah, berarti saat menegrjakan ga dirundung rasa sesal.

Lalu selanjutnya jujur pada orang tua, kita lihat ekspresi orang tua saat kita memilih menggunakan kunci itu bagaimana? Misal,, “Bunda, sampai sekarang ananda ga bisa bagian ini. Kalau ananda pakai kunci jawaban bagaimana?”.

Biasanya orang tua bilang kalau kunci itu ga bisa dipercaya. Ya suguhin aja testimony dari para alumni yang pernah gunakan itu dan berhasil. Coba deh….

Minggu, 30 Maret 2014

It Isn't About Passion

"Follow your passion" nasehat ini sering kita dengar saat kita bimbang akan memilih jalan mana yang akan kita ambil kedepannya.Terlebih bagi kita yang masih bingung untuk menentukan Progam Studi apa yang cocok bagi kita. (Cerita anak 3 SMA).


Kata-kata ini memang hebat. Kisah yang paling kita ketahui tidak lain adalah Pungshuk Wangru dalam 3 idiotsnya. Juga bermacam kisah orang sukses mengikuti passionnya. Kono wa genjitsu!

Namun banyak juga mereka yang tak bisa atau belum bisa menemukan passionnya. Ini juga kenyataan.

Pada saat ini ada beberapa hal yang bisa dipilih selain passion. Diantaranya adalah komitmen.

Komitmen untuk memilih salah satu prodi dan terus belajar bila mendapatkan Ridha Allah ta'ala.

Minggu, 09 Februari 2014

Hutan Yang Menua

Bagaimana rasanya memasuki hutan purba seperti Mirkwood yang diceritakan dalam sebuah novel dan film fiksi The Hobbit? Bagaimana rasanya memasuki hutan antah berantah seperti yang dialami petualang Indiana Jones? Dapatkah kita merasakannya sekarang ini?
Ilustrasi Mirkwood 'The Hobbit'

Sayangnya sebagian besar dari kita belumlah berkesempatan untuk merasakannya. Banyak yang berkata untuk mewariskan hutan bagi anak cucu kita, namun sebenarnya slogan ini terkesan terlambat. Hutan yang sekarang kita kenal adalah hutan dengan beberapa pos penjagaan di setiap sisinya serta gerbang pintu masuk bagi pengunjung. Di hutan ini cahaya matahari masuk jauh lebih banyak, terdapat pula jalan-jalan setapak yang mulai diperkokoh dengan semen, populasi yang menghuninya juga semakin bertambah sepi. Sebab bukanlah itu hutan bentukan alam.

Tidak akan indah lagi apabila nanti kita hanya tahu hutan yang terisi dari pohon-pohon beton, dengan gas monooksida yang keluar dari sebagian besar populasinya, lalu kaca-kaca yang terhampar begitu tinggi memantulkan kenampakan hutan itu. Hutan yang kita inginkan adalah sebuah hutan purba yang merupakan bentukan alami kecerdasan alam.

Memasuki hutan yang sinar matahari hanya tampak seperti garis-garis kecil akibat atap dedaunan lebat yang ditopang pohon-pohon tinggi nan kokoh. Mencium aroma khas akibat lapisan dedaunan yang terus mengalami pembusukan dilantai-lantai hutan. Merasakan belaian dedaunan dari semak-semak serta akar dan batang yang menjuntai. Melihat orang utan yang bergelantungan, kera-kera yang melompat bebas diantara dahan-dahan pohon. Dan yang tak kalah penting adalah mendengarkan suara-suara penghuni hutan yang tak mampu bicara.

Pohon-pohon tua itu turut andil dalam penyerapan karbon-karbon yang berceceran akibat ulah manusia. Pohon-pohon besar menyerap karbon jauh lebih banyak yang berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan mereka. Alhasil karena itu bumi akan lebih lama menjadi tempat yang masih layak untuk menopang hidup spesies manusia. reference

Tak hanya itu kemampuan hutan-hutan tua. Pohon-pohon yang pada akhirnya telah kehabisan masa hidupnya dan tak mampu lagi menopang beratnya akan jatuh dan menjadi tempat tinggal bagi sebagian spesies yang lain. Hingga lama-kelamaan pohon tua itu akan dihabisi massanya oleh mikroorganisme-mikroorganisme hingga menjadi molekul-molekul yang dapat menopang hidup pohon-pohon muda. Demikianlah siklus Biogeokimia yang dipelajari siswa siswi dalam bangku sekolah berjalan.

Hutan tua dan alami sepeti yang Tuhan berikan seperti hutan di Borneo juga merupakan sebuah perpustakaan informasi yang belum semuanya telah dibaca oleh ilmu pengetahuan. Menebangnya walaupun dengan metoda tebang pilih tidak lain seperti halnya membakar sebuah ensiklopedi yang baru kita baca hingga bab 1 saja.

Informasi ini dapat menjadi sebuah inspirasi bagi para sastrawan, bagi para pelukis yang ingin menyejukkan mata, dan menjadi objek gambar bagi anak-anak kecil. Kita tidak mau apabila kelak ditanya seperti gambaran hutan kita tak dapat mengingatnya dalam benak.

Hutan-hutan ini merupakan jejak-jejak firdaus yang masih terdapat dalam bumi. Hutan di Indonesia sudah memberi keuntungan yang begitu banyak bagi masyarakat. Menghancurkannya berarti juga menghancurkan tabung-tabung gas hasil emisi karbon manusia.
Protect Paradise berarti melindungi jejak-jejak gambaran firdaus yang ada di bumi. Tidak lain adalah untuk melindungi penghuni utama gambaran firdaus tersebut…


Sabtu, 25 Januari 2014

Resensi : GINKO


Judul Buku          : Ginko
Pengarang           : Jun’ichi Watanabe
Alih Bahasa         : Istiani Prajoko
Jenis Buku           : Novel Biografis
Penerbit               : Serambi
Cetakan               : Ke-dua Januari 2013
Detail Buku          : 463 Halaman. 20,5 x 13,5 cm


Jun’ichi Watanabe dilahirkan di Hokkaido, Jepang pada 1933. Watanabe-san tertarik dengan dunia tulis menulis saat menempuh sekolah menengah. Ketertarikannya itu berlanjut ketika ia menempuh ilmu kedokteran di Universitas Sapporo dengan mempublikasikan tulisan di sejumlah majalah sastra.

Selepas kuliahnya Watanabe-san membuka praktik sebagai ahli bedah ortopedi. Tapi kemudian ia hijrah ke Tokyo untuk mendalami dunia ke-penulisan. Sejak 1969, ia merintis karier sebagai penulis sepenuhnya.

Junichi Watanabe
“Ginko” (dengan versi bahasa Inggrisnya berjudul “Beyond The Blossoming Fields”) yang menceritakan kisah dokter perempuan berlisensi pertama di Jepang merupakan salah satu novel diantara puluhan novel yang telah ia karang. Seperti Shitsuraken (A Lost Paradise), Hikari to Kage, dan Toki rakujitsu.

Sabtu, 05 Juli 2014

Satu Suara Untuk Nomor 1




“Emas belum tentu gemerlap,
                Tak semua pengembara tersesat;
Yang tua tapi kokoh akan bertahan tetap,
                Akar yang tertanam dalam akan bertahan kuat.
Dari abu akan menyala api,         
                Dari bayangan akan muncul cahaya;
Mata pisau yang patah akan diperbaharui,
                Yang tidak bermahkota ‘kan kembali menjadi raja.”
Aragorn,,,-oleh Gandalf tokoh fiksi The Lord of The Ring

Setiap orang memiliki kriteria tersendiri dalam memilih pemimpinnya. Terlebih mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Namun dalam pesta demokrasi lima tahunan ini dengan segala prosesnya menyisakan empat orang terbaik yang dimiliki bangsa ini.

Walaupun pada akhirnya menyisakan dua pasang kandidat, pemilih masih mempunyai pilihan ketiga, yaitu memilih untuk tidak memilih dalam kata lain Golput. Awalnya pilihan ini yang akan saya ambil. Namun perdebatan di social media kian memanas tiap harinya, akun-akun yang menjadi teman saya pun membahas hal ini secara massive.

Hingga pada akhirnya menghantarkan saya sedikit lebih dekat pada masing-masing kandidat. Saya pun menilai kedua sosok ini sebagai berikut : Pak Jokowi yang menurut saya adalah sosok masa kini, sosok baru yang bersih dari kabut masa lalu dengan Pak Prabowo yang merupakan orang dari masa lalu dengan segala keburukan yang melekat erat pada punggung beliau.

Membahas dan mengenal Pak Jokowi bukanlah hal yang sulit walaupun bukan berarti mudah, mengingat pemberitaan tentang beliau sering kita jumpai pasca keberhasilannya dengan mobil Esemka juga pemindahan pedagang kaki lima sekian tahun yang lalu. Sehingga siapa sih yang tidak mengenal beliau dan prestasinya?

Sementara itu pilihan lain menyodorkan kita pada sosok Prabowo Subianto, seseorang yang berasal dari kabut keremangan masa-masa yang telah lalu. Di mana sebagian pemilih pemula ketika peristiwa tahun 90an hanyalah anak-anak yang belum mengerti luasnya dunia.

Namun setelah beberapa pertimbangan dengan segala keterbatasan saya dan kekurangan beliau saya memilih #PrabowoHatta untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan masa Bapak Susilo Bambang Y. ;

Alasan saya memilih beliau saya akui tidak bisa secerdas maupun sekritis alasan-alasan yang kawan-kawan paparkan. Namun itulah system yang ada sekarang ini di mana satu suara orang biasa setara dengan satu suara para cendekiawan maupun orang-orang dengan segudang prestasi lain. Diantara beberapa alasan tersebut adalah :

Saya percaya kedua pasang kandidat memiliki arah kepada #SelamatkanIndonesia, namun tujuan ini lebih melekat pada sosok kandidat nomor satu dengan jargon “Indonesia Bangkit”. Latar belakang Bapak Prabowo yang pernah lama tinggal di luar negeri sana saya yakin bahwa itu memberikan pandangan bahwa Indonesia belumlah berdiri dengan kaki sendiri. Tak perlulah saya rinci maksud belum berdiri dengan kaki sendiri tersebut.

Selain itu mempelajari tentang sosok Pak Prabowo mengharuskan kami sebagai generasi muda membuka kembali lembar-lembar sejarah yang mulai kusut oleh berbagai sudut pandang yang kian menebal seiring berjalannya waktu. Kita dapat belajar mengenai peristiwa seputar reformasi, kegagahan Kopassus, buruknya kondisi bangsa saat itu. Lalu mempelajari pandangannya menjadikan kita bangga sebagai bangsa terbesar keempat di dunia. Walaupun sebagian orang menganggap kebocoran yang beliau utarakan hanya hayalan belaka.

Latar belakang sebagai militer yang disandang beliau menjadi nilai tambah bahwa nasionalisme yang tinggi ada pada diri beliau. Lihatlah betapa tegasnya beliau saat mengatakan tidak sejengkalpun bagian dari NKRI akan jatuh pada tangan-tangan lain.

Dan beberapa alasan lain yang tidak perlu saya lampirkan di sini karena niatan saya bukan untuk mempengaruhi mereka yang berbeda pilihan.
Sayapun tak berharap Bapak Prabowo akan menepati semua janji-janjinya, tapi saya menagih bapak untuk memperjuangkannya

Dengan ini Insya Allah saya yakin untuk menyumbangkan satu suara untuk no. 1 pada 9 Juli. Menuju #IndonesiaSatu. Sekalipun mereka berkata hanya KECURANGAN yang mampu menghantarkan Prabowo Hatta untuk mendapat mandat rakyat.

Tidak semua emas bersih, ia tetaplah emas walau berada dalam kubangan lumpur.


Ket : Gambar yang dipakai pada tulisan di atas berupa URL

Minggu, 25 Mei 2014

My Dear Frodo

Di antara sedikit kisah fantasi yang mendunia, Lord of The Ring adalah kisah yang paling berbekas bagiku.





Sejak kelas 5 atau 6 SD hingga saat ini masih belum bosan-bosan melihat film yang digarap Peter Jackson itu.

Jika dibandingkan Harry Potter yang lebih terkenal di kalangan teman-teman. LoTR memiliki satu keutamaan yang tak ada pada kisah kisah kepahlawanan lain.

Hari Potter, Narnia bercerita tentang bagaimana seseorang mendapatkan kebesaran yang dapat ditakar dengan ukuran.
Edmund dan siblings-nya menjadi raja Narnia seperti sebagaimana yang dikatakan sebuah Nubuat bahwa Narnia akan damai jika dipimpin putra putri Adam.

Harry Potter lain lagi disaat dia masih bayipun kejadian luar biasa sudah menyertainya sehingga bab awal novel 'The Soccerers Stone' berjudul 'A Boy Who Survive'. Selain daripada itu ayah dan ibunya memang penyihir yang hebat.

Sedangkan LoTR untuk menyingkirkan kegelapan yang berusia ribuan tahun memilih menggunakan Frodo Baggins, seorang Hobbit yang tidak spesial bahkan dikalangan Hobbit sendiri. Orang tua Frodo meninggal 'hanya' karena tenggelam. Bilbo jauh lebih spesial daripada Frodo.

Itulah yang extra ordinary dari LoTR, Tolkien memilih Frodo yang from nothing to something dalam perjalanannya, istilah from zero to hero tidak tepat. Karena Frodo tidak memiliki kebesaran yang dapat diukur. Gandalf atau Aragornlah yang mungkin akan dipilih penulis lain untuk mengemban tugas itu.

Itulah keindahannya...

Minggu, 20 April 2014

Tentang UN 2014

                  Sebenarnya entah harus mulai dari mana untuk menulis tentang Ujian Nasional 2014 kemarin. Mungkin ada benarnya jika ujian pada tahun ini begitu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Terlebih saat ku lihat di social media terutama twitter. Bagi temen-temen yang belum lihat gimana keluhannya, cari Googling aja pasti bakal ketemu.

Aduh Gimana Nihhh

Mayoritas kawan-kawan kita mengeluhkan sulitnya mata pelajaran Ekonomi, Matematika, Kimia dan Fisika. Nah, mereka beralasan begitu karena ternyata soal yang keluar tahun ini berbeda dengan soal yang biasa kita-kita dapetin entah itu di lembaga bimbingan maupun pendalaman materi dari sekolah.

Ada lagi yang bilang kalau soal UN terutama matematika kemarin bertaraf Internasional karena mengadopsi soal dari PISA (Klik) ataupun setara dengan OSN (klik).

Hal itu pun telah ditanggapi menteri pendidikan kita bapak Mohammad Nuh dalam account twitter beliau @Mohammad_Nuh_ beliau menyatakan 5 point dari keluhan ratusan siswa.

1.Adik2 yg ikut , terima kasih atas respons tentang tingkat kesulitan soal.
2.Jika ada soal yg dirasa sulit, hal itu wajar karena selalu ada soal baru dalam setiap ujian. Ini salah 1 esensi   ujian.
3. Di tahun-tahun sebelumnya juga selalu ada siswa/i yg merasa kesulitan karena mendapat soal yg baru.

4.Soal baru adalah soal yg blm pernah adik-adik temui itemukan dalam soal-soal latihan.
5.Kami yakin soal baru tersebut dpt dikerjakan dg benar o/ adik2 yg sudah belajar tekun, meski dirasa sulit.

Jawaban yang datang dari bapak Menteri sangat mengecewakan sebagian pihak. Mungkin banyak yang sakit hati.

Bagi saya sendiri tingkat kesulitan pada Ujian Nasional kemarin masih dapat diterima. Eh bukan saya sombong atau menganggap soalnya mudah, untuk matematika sendiri hanya bisa jawab enam belas soal. (Karena untuk beberapa SKL memang sengaja tidak mempelajarinya.)

Harusnya yang berkata begini adalah mereka yang mempelajari intisari seluruh SKL. Jika tidak percaya coba buka buku dan cari lagi soal-soal UN kemarin. Pasti bisa. Toh tuduhan bahwa soal tidak sesuai SKL bagi saya ga benar.

Untuk soal yang disajikan-pun belum taraf internasional (eh). Kalau kalian pernah coba soal-soal di OSN atau EJU (Klik) maka soal kemarin masih dibawahnya. Karena saat coba soal-soal itu saya ga tau sama sekali maksudnya. Jangankan ngerti mah,,, bingung aja enggak.

Jika pada UN kemarin kalian bingung itu kan tandanya hampir mengerti.Untuk yang dari PISA masih sangat belum aplikatif dibandingkan dengan soal PISA untuk umur 15 tahun ke bawah.

Adalagi yang berkata akibat soal yang terlampau sulit akhirnya menomor duakan kejujuran dengan melihat bocoran kunci jawaban. Ini yang rada miris,,, kejujuran dilakukan hanya pada saat dia di zona aman. Begitu keluar....???

 Menurut kalian gimana???


Lulus ya...
20  April 2014

Sabtu, 12 April 2014

UN Jujur Hebat


           Ada yang menganggap UN itu akhir, ada pula yang beranggapan UN itu awal. 
Entah awal maupun akhir jika jujur kan lebih baik...

Jujur di sini bisa diartikan dengan jujur mengerjakannya sendirian tanpa bantuan-bantuan yang jelek bagi sebagian orang. Namun, jika diartikan jujur untuk tidak malu mengungkapkan metode apa yang kita pilih saat mengerjakan UN juga bisa.
Ga Gini Juga Kali

Sederhananya ya jika kita membeli dan memakai kunci jawaban, maka jujur saja tidak perlu ditutup-tutupi. “Ah ngawur kamu, kalau ketahuan pengawas kan bisa bahaya.”
Ya ga perlu juga beri tahu ke pengawas. Mereka kan Cuma bertugas meningkatkan kualitas, aksebilitas, dan kredibilitas penyelenggaraan Ujian Nasional.

Maksudnya coba jujur mulai dari diri sendiri. Kita malu atau enjoy dan bangga memakai kunci jawaban sekalipun hanya untuk pengangan. Kalau bangga sih Alhamdulillah, berarti saat menegrjakan ga dirundung rasa sesal.

Lalu selanjutnya jujur pada orang tua, kita lihat ekspresi orang tua saat kita memilih menggunakan kunci itu bagaimana? Misal,, “Bunda, sampai sekarang ananda ga bisa bagian ini. Kalau ananda pakai kunci jawaban bagaimana?”.

Biasanya orang tua bilang kalau kunci itu ga bisa dipercaya. Ya suguhin aja testimony dari para alumni yang pernah gunakan itu dan berhasil. Coba deh….

Minggu, 30 Maret 2014

It Isn't About Passion

"Follow your passion" nasehat ini sering kita dengar saat kita bimbang akan memilih jalan mana yang akan kita ambil kedepannya.Terlebih bagi kita yang masih bingung untuk menentukan Progam Studi apa yang cocok bagi kita. (Cerita anak 3 SMA).


Kata-kata ini memang hebat. Kisah yang paling kita ketahui tidak lain adalah Pungshuk Wangru dalam 3 idiotsnya. Juga bermacam kisah orang sukses mengikuti passionnya. Kono wa genjitsu!

Namun banyak juga mereka yang tak bisa atau belum bisa menemukan passionnya. Ini juga kenyataan.

Pada saat ini ada beberapa hal yang bisa dipilih selain passion. Diantaranya adalah komitmen.

Komitmen untuk memilih salah satu prodi dan terus belajar bila mendapatkan Ridha Allah ta'ala.

Minggu, 09 Februari 2014

Hutan Yang Menua

Bagaimana rasanya memasuki hutan purba seperti Mirkwood yang diceritakan dalam sebuah novel dan film fiksi The Hobbit? Bagaimana rasanya memasuki hutan antah berantah seperti yang dialami petualang Indiana Jones? Dapatkah kita merasakannya sekarang ini?
Ilustrasi Mirkwood 'The Hobbit'

Sayangnya sebagian besar dari kita belumlah berkesempatan untuk merasakannya. Banyak yang berkata untuk mewariskan hutan bagi anak cucu kita, namun sebenarnya slogan ini terkesan terlambat. Hutan yang sekarang kita kenal adalah hutan dengan beberapa pos penjagaan di setiap sisinya serta gerbang pintu masuk bagi pengunjung. Di hutan ini cahaya matahari masuk jauh lebih banyak, terdapat pula jalan-jalan setapak yang mulai diperkokoh dengan semen, populasi yang menghuninya juga semakin bertambah sepi. Sebab bukanlah itu hutan bentukan alam.

Tidak akan indah lagi apabila nanti kita hanya tahu hutan yang terisi dari pohon-pohon beton, dengan gas monooksida yang keluar dari sebagian besar populasinya, lalu kaca-kaca yang terhampar begitu tinggi memantulkan kenampakan hutan itu. Hutan yang kita inginkan adalah sebuah hutan purba yang merupakan bentukan alami kecerdasan alam.

Memasuki hutan yang sinar matahari hanya tampak seperti garis-garis kecil akibat atap dedaunan lebat yang ditopang pohon-pohon tinggi nan kokoh. Mencium aroma khas akibat lapisan dedaunan yang terus mengalami pembusukan dilantai-lantai hutan. Merasakan belaian dedaunan dari semak-semak serta akar dan batang yang menjuntai. Melihat orang utan yang bergelantungan, kera-kera yang melompat bebas diantara dahan-dahan pohon. Dan yang tak kalah penting adalah mendengarkan suara-suara penghuni hutan yang tak mampu bicara.

Pohon-pohon tua itu turut andil dalam penyerapan karbon-karbon yang berceceran akibat ulah manusia. Pohon-pohon besar menyerap karbon jauh lebih banyak yang berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan mereka. Alhasil karena itu bumi akan lebih lama menjadi tempat yang masih layak untuk menopang hidup spesies manusia. reference

Tak hanya itu kemampuan hutan-hutan tua. Pohon-pohon yang pada akhirnya telah kehabisan masa hidupnya dan tak mampu lagi menopang beratnya akan jatuh dan menjadi tempat tinggal bagi sebagian spesies yang lain. Hingga lama-kelamaan pohon tua itu akan dihabisi massanya oleh mikroorganisme-mikroorganisme hingga menjadi molekul-molekul yang dapat menopang hidup pohon-pohon muda. Demikianlah siklus Biogeokimia yang dipelajari siswa siswi dalam bangku sekolah berjalan.

Hutan tua dan alami sepeti yang Tuhan berikan seperti hutan di Borneo juga merupakan sebuah perpustakaan informasi yang belum semuanya telah dibaca oleh ilmu pengetahuan. Menebangnya walaupun dengan metoda tebang pilih tidak lain seperti halnya membakar sebuah ensiklopedi yang baru kita baca hingga bab 1 saja.

Informasi ini dapat menjadi sebuah inspirasi bagi para sastrawan, bagi para pelukis yang ingin menyejukkan mata, dan menjadi objek gambar bagi anak-anak kecil. Kita tidak mau apabila kelak ditanya seperti gambaran hutan kita tak dapat mengingatnya dalam benak.

Hutan-hutan ini merupakan jejak-jejak firdaus yang masih terdapat dalam bumi. Hutan di Indonesia sudah memberi keuntungan yang begitu banyak bagi masyarakat. Menghancurkannya berarti juga menghancurkan tabung-tabung gas hasil emisi karbon manusia.
Protect Paradise berarti melindungi jejak-jejak gambaran firdaus yang ada di bumi. Tidak lain adalah untuk melindungi penghuni utama gambaran firdaus tersebut…


Sabtu, 25 Januari 2014

Resensi : GINKO


Judul Buku          : Ginko
Pengarang           : Jun’ichi Watanabe
Alih Bahasa         : Istiani Prajoko
Jenis Buku           : Novel Biografis
Penerbit               : Serambi
Cetakan               : Ke-dua Januari 2013
Detail Buku          : 463 Halaman. 20,5 x 13,5 cm


Jun’ichi Watanabe dilahirkan di Hokkaido, Jepang pada 1933. Watanabe-san tertarik dengan dunia tulis menulis saat menempuh sekolah menengah. Ketertarikannya itu berlanjut ketika ia menempuh ilmu kedokteran di Universitas Sapporo dengan mempublikasikan tulisan di sejumlah majalah sastra.

Selepas kuliahnya Watanabe-san membuka praktik sebagai ahli bedah ortopedi. Tapi kemudian ia hijrah ke Tokyo untuk mendalami dunia ke-penulisan. Sejak 1969, ia merintis karier sebagai penulis sepenuhnya.

Junichi Watanabe
“Ginko” (dengan versi bahasa Inggrisnya berjudul “Beyond The Blossoming Fields”) yang menceritakan kisah dokter perempuan berlisensi pertama di Jepang merupakan salah satu novel diantara puluhan novel yang telah ia karang. Seperti Shitsuraken (A Lost Paradise), Hikari to Kage, dan Toki rakujitsu.