Senin, 06 Februari 2017

Tentang Flat Earth

~~Bukan artikel ilmiah, motivasi, intelektual, politik hanya sedikit pendapat yang tertuliskan saat mempelajari Bumi. (tapi yang datar)~~


 “When I orbited the Earth in a spaceship, I saw for the first time how beautiful our planet is. Mankind, let us preserve and increase this beauty, and not destroy it!” Yuri Gagarin

Pada tahun 2013, ada sebuah artikel yang cukup menghebohkan mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Artikel tersebut berjudul “Indonesian kids don’t know how stupid they are.” Yang ditulis oleh Elizabeth Pisani seorang WNA asal Amerika Serikat, epidemiologis, dan juga seorang mantan jurnalis pada situs indonesiaetc.com [1]. Singkat cerita Pisani menyampaikan betapa memprihatinkannya intelektualitas anak-anak Indonesia berdasarkan hasil survey PISA kala itu. Hasil survey menunjukkan posisi Indonesia berada pada paling bawah diantara 65 negara lain dan tidak terlalu membaik pada hasil survey selanjutnya [2].

Penulis yang kala itu masih menyandang status sebagai siswa SMA, sedikit tidak percaya mengenai hasil survey tersebut. Karena pada nyatanya tidak jarang olimpiade sains tingkat internasional dijuarai oleh pemuda pemudi Indonesia. Lantas bagaimana bisa Indonesia menjadi Negara dengan peringkat terendah pada survey PISA? Hal ini terjadi karena mereka yang berhasil menjuarai olimpiade tingkat internasional itu bukanlah representasi utuh pelajar di Indonesia, mungkin mereka mewakili teman-teman kita yang berada di perkotaan dengan berbagai factor pembelajaran yang mencukupi. Namun, secara umum pelajar Indonesia masih berada di bawah negara-negara lain dalam hal pemahaman terhadap sains dasar.


Senin, 06 Februari 2017

Tentang Flat Earth

~~Bukan artikel ilmiah, motivasi, intelektual, politik hanya sedikit pendapat yang tertuliskan saat mempelajari Bumi. (tapi yang datar)~~


 “When I orbited the Earth in a spaceship, I saw for the first time how beautiful our planet is. Mankind, let us preserve and increase this beauty, and not destroy it!” Yuri Gagarin

Pada tahun 2013, ada sebuah artikel yang cukup menghebohkan mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Artikel tersebut berjudul “Indonesian kids don’t know how stupid they are.” Yang ditulis oleh Elizabeth Pisani seorang WNA asal Amerika Serikat, epidemiologis, dan juga seorang mantan jurnalis pada situs indonesiaetc.com [1]. Singkat cerita Pisani menyampaikan betapa memprihatinkannya intelektualitas anak-anak Indonesia berdasarkan hasil survey PISA kala itu. Hasil survey menunjukkan posisi Indonesia berada pada paling bawah diantara 65 negara lain dan tidak terlalu membaik pada hasil survey selanjutnya [2].

Penulis yang kala itu masih menyandang status sebagai siswa SMA, sedikit tidak percaya mengenai hasil survey tersebut. Karena pada nyatanya tidak jarang olimpiade sains tingkat internasional dijuarai oleh pemuda pemudi Indonesia. Lantas bagaimana bisa Indonesia menjadi Negara dengan peringkat terendah pada survey PISA? Hal ini terjadi karena mereka yang berhasil menjuarai olimpiade tingkat internasional itu bukanlah representasi utuh pelajar di Indonesia, mungkin mereka mewakili teman-teman kita yang berada di perkotaan dengan berbagai factor pembelajaran yang mencukupi. Namun, secara umum pelajar Indonesia masih berada di bawah negara-negara lain dalam hal pemahaman terhadap sains dasar.