Postingan

Catatan Pendek : Tes CPNS BATAN

               Saya pernah berniat untuk menuliskan pengalaman saya mengikuti tes CPNS di BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) apabila saya berhasil lolos. Alasannya ketika saya membutuhkan materi untuk persiapan tes SKB (Seleksi Kompetensi Bidang), saya kebingungan karena sulit mendapat kisi-kisi mengenai ketenaganukliran terlebih saya lulusan Teknik Lingkungan. Berbeda dengan beberapa instansi lain, katakanlah Kemen PUPR dan KLHK. Kisi-kisi soal SKBnya bahkan sudah tersedia dibuku-buku latihan tes CPNS yang ada di pasaran. Mumpung ingat, saya tuliskan sekarang saja. Sebelum membahas mengenai tahapan tes, jika ditanya mengapa saya memilih untuk mendaftar di BATAN alasan saya mungkin tidak seistimewa teman-teman lain yang ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui IPTEK Nuklir dan sebagainya. Alasan saya sederhana. Pertama : Cari pekerjaan (Penghasilan). Tidak perlu dijelaskan lebih detail ya. Kedua : Nasehat Sebelumnya...

Mengenai Sarjana yang Menjadi Ibu Rumah Tangga

     Pada semester akhir kuliah, Saya mengikuti kelas mengenai pengenalan dasar Manajemen Mutu ISO 9001:2015. Saat itu pemateri memberikan pertanyaan, "Apa output utama dari perguruan tinggi?" Ketika saya mau menjawab  "Publikasi ilmiah dan kegiatan pemberdayaan masyarakat.",  ada peserta lain menjawab terlebih dahulu dan jawaban tersebut dibenarkan oleh pemateri,  "Ya benar, penyerapan alumni di lapangan kerja." Sejenak saya cukup terkejut, sepertinya selama ini saya salah memaknai apa fungsi pendidikan tinggi.      Tentunya saya tidak menafikkan bahwa alasan saya untuk menempuh pendidikan tinggi adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, hal-hal yang saya pelajari selama masa-masa kuliah seperti membuat saya lupa bahwa tujuan utama kuliah adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Seolah-olah saya sudah lupa bahwa Universitas memiliki orientasi untuk menghasilkan cetakan alumni yang menyesuaikan lapangan kerja.    ...

Mengenai Jilbab

Gambar
  Beberapa ocehan teman mengenai Jilbab Beberapa saat lalu saya lihat salah satu video tiktok dari dari seorang content creator muda. Pesan di video tersebut intinya menyayangkan muslimah yang belum berpakaian syar’i. Sayangnya di videonya ia mengambil salah satu youtuber muslimah yang cukup sering menyuarakan feminisme sebagai contoh. Di kolom komentar si content creator ini tentu saja dihakimi netizen. Video ini sampai juga pada youtuber tersebut dan jargon “Stop telling woman what to wear” pun dilontarkan. Ngomong-ngomong kenapa tiktok saya isinya seperti ini ya? Kasian juga sih lihat komentar-komentarnya. Terlebih si tiktoker ini usianya masih usia-usia SMP. Mengurus KTP saja dia masih belum cukup usia, tapi sudah menerima komentar-komentar jahat begitu banyaknya. Untung ketika saya sering bacot di usia-usia SMP dulu algoritma Facebook masih belum mengenal istilah viral ataupun trending.

Tidak Mengenal Nabi

Gambar
  “Barang siapa yang tidak marah ketika Nabi Muhammad (pbuh) dihina maka imannya patut dipertanyakan.”   Pernah dengar kalimat di atas? Termotivasi meningkatkan imankah anda jika mendengar itu atau justru menjadi cikal bakal penyakit hati?

Catatan Pendek : Half Earth, Mengkonservasi Setengah Bumi

Gambar
Ketika membeli buku ini saya tertarik dengan gagasan penulis, Edward O. Wilson yang mengajukan ide untuk mengkonservasi ‘setengah’ Bumi. Namun sayang, gagasannya ini justru hanya di jelaskan dalam salah satu bab terakhir. Itupun lebih membahas hubungan antara luas lanscape dengan keanekaragaman hayati. Berkurangnya kemampuan reading saya menambah kesulitan untuk menangkap dengan jelas gagasan utamanya.       M umpung  saat ini (akhir Oktober 2020) sedang cukup ramai bahasan mengenai proyek pembangunan pada Taman Nasional Komodo. Saya kira bahasan Wilson dalam buku ini bisa bermanfaat sebagai dasar pandangan kita soal keanekaragaman hayati. E. O. Wilson membagi buku ini dalam tiga bahasan utama yaitu Masalah mengenai keanekaragaman hayati, Realitas dunia kita saat ini, dan Solusi menjaga keanekaragaman hayati yang ia tawarkan. Punah

Catatan Pendek : Sapiens dan Homo Deus

Gambar
Bagi penggemar dunia literasi di Indonesia saya rasa tidak asing dengan buku Sapiens dan Homo Deus-nya Yuval Noah Harari. Saya bukan termasuk pegiat literasi, namun semenjak kecil saya cukup tertarik dengan sejarah umat manusia. Genre ini saya nikmati baik dalam bentuk film fiksi, film dokumenter, artikel, buku, maupun game. Namun informasi-informasi sejarah tersebut saya dapatkan secara terpotong-potong. Apalagi saya memang mempelajari sejarah dari segmen-segmen kecil baik itu tokoh atau peristiwa tertentu. Hal ini membuat saya tidak bisa memahami apa yang benar-benar terjadi pada zaman itu. Anggap saja saat mempelajari sejarah Indonesia yang terdiri dari kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, Islam tiba-tiba saja kita kedatangan bangsa Eropa yang membawa teknologi yang lebih maju dari bangsa kita. Kenapa bisa mereka lebih maju? Kenapa mereka jauh-jauh dari Eropa kesini? Kenapa bukan China yang menjajah kita?

Lelah, Kalah, dan Menyerah

Gambar
  Untukmu yang sedang merasa lelah, Sudikah kemari untuk duduk bersebelah? Aku tidak akan menasehatimu untuk tidak kalah, Sebab akupun tidak jarang ingin menyerah.   Jadi mumpung saat menulis ini saya sedang merasa kalah, saya putuskan untuk segera menulis. Sebab jika menunggu rasa kekecewaan itu hilang apalagi sampai menunggu ‘keberhasilan’ datang, saya takut tidak akan bisa bersikap adil terhadap kekalahan. Ujung-ujungnya saya malah hanya akan menempatkan dia sebagai hanya gunung es kekalahan yang menopang gunung es kemenangan.