Sabtu, 28 Januari 2012

Cinta Ditolak?? Apa kata Salman Al-Farisi?


Assalamualaikum.

…..Artikel sederhana yang saya buat kali ini, saya buat sebagai pelipur lara. Di tengah berbagai perkara. Yang terus datang mendera. Karena mengingat indahnya harapan pada yang di 'cinta'......

Kawan sebagai remaja sudah pasti kita pernah merasakan yang namanya 'kasmaran' terhadap si dia. Rasa yang rasanya sangat subhanallah indahnya, bahagianya apabila bisa bertemu dengannya berbincang dengannya, ya tau sendiri kan?

Keindahannya saya pikir memuncak ketika kita sudah SIAP mengatakan cinta padanya, SIAP dengan pertanggung jawabannya, urusan material sudah SIAP. Apalagi kalau dilandasi oleh cahaya ILLAHI bukan BIRAHI. Maka saya pikir tibalah kita pada tantangan yang cukup besar yaitu, mengatakan cinta padanya bukan hanya didepan si dia tapi juga di hadapan orang tuanya. Karena niat kita memang mengikatnya dengan janji suci.

Minggu, 22 Januari 2012

Yang Bermanfaat


“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”
(HR Bukhari)

-Artikel sederhana kali ini saya buat sebagai tolak ukur saya kedepan-

“Perilaku Annas yang sejak masuk SMAN 20, mungkin bagi sebagian orang akan menganggap Annas berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Bagaimana tidak sejak bergabung dengan organisasi Islam di sekolahnya kegiatan yang ia lakukan semakin membawa kepada hal yang positif, seperti mengikuti kajian rutin, ibadah yang makin 'kelihatan' dan bahkan uang jajan yang biasa ia gunakan untuk bermain game Online ia tabungkan untuk membeli buku-buku Islami. Tapi sebenarnya dalam dirinya Annas tetap merasa sama sahaja. Karena waktu yang biasanya dulu ia sisihkan untuk mencuci baju, piring sekarang harus digantikan ibunda tercinta karena terganti dengan kegiatannya di luar. Semakin jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, karena untuk sekolah sahaja harus pulang jam 15.00 lebih belum garap tugas pula. Apakah iya Annas bisa dikatakan sudah bermanfaat?”

Gambaran di atas menunjukkan bahwa sejatinya Annas bukanlah Ikhwan yang berguna, ia bermanfaat hanya pada dirinya sahaja. Adapun manfaat bagi orang lain sejatinya adalah “Sunnah” dalam artian mungkin ada yang bilang ia berguna tapi tidak ada dirinya pun orang lain menganggap, “Tak apalah” atau “Emangnya dia siapa?”. Mungkin ia merasa shalih, alim untuk dirinya sendiri sahaja sudah cukup. Biarlah orang lain menghamburkan uang bersikap hedonis, masa bodoh jika ada kemungkaran yang terjadi di depan matanya.

Sabtu, 28 Januari 2012

Cinta Ditolak?? Apa kata Salman Al-Farisi?


Assalamualaikum.

…..Artikel sederhana yang saya buat kali ini, saya buat sebagai pelipur lara. Di tengah berbagai perkara. Yang terus datang mendera. Karena mengingat indahnya harapan pada yang di 'cinta'......

Kawan sebagai remaja sudah pasti kita pernah merasakan yang namanya 'kasmaran' terhadap si dia. Rasa yang rasanya sangat subhanallah indahnya, bahagianya apabila bisa bertemu dengannya berbincang dengannya, ya tau sendiri kan?

Keindahannya saya pikir memuncak ketika kita sudah SIAP mengatakan cinta padanya, SIAP dengan pertanggung jawabannya, urusan material sudah SIAP. Apalagi kalau dilandasi oleh cahaya ILLAHI bukan BIRAHI. Maka saya pikir tibalah kita pada tantangan yang cukup besar yaitu, mengatakan cinta padanya bukan hanya didepan si dia tapi juga di hadapan orang tuanya. Karena niat kita memang mengikatnya dengan janji suci.

Minggu, 22 Januari 2012

Yang Bermanfaat


“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”
(HR Bukhari)

-Artikel sederhana kali ini saya buat sebagai tolak ukur saya kedepan-

“Perilaku Annas yang sejak masuk SMAN 20, mungkin bagi sebagian orang akan menganggap Annas berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Bagaimana tidak sejak bergabung dengan organisasi Islam di sekolahnya kegiatan yang ia lakukan semakin membawa kepada hal yang positif, seperti mengikuti kajian rutin, ibadah yang makin 'kelihatan' dan bahkan uang jajan yang biasa ia gunakan untuk bermain game Online ia tabungkan untuk membeli buku-buku Islami. Tapi sebenarnya dalam dirinya Annas tetap merasa sama sahaja. Karena waktu yang biasanya dulu ia sisihkan untuk mencuci baju, piring sekarang harus digantikan ibunda tercinta karena terganti dengan kegiatannya di luar. Semakin jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, karena untuk sekolah sahaja harus pulang jam 15.00 lebih belum garap tugas pula. Apakah iya Annas bisa dikatakan sudah bermanfaat?”

Gambaran di atas menunjukkan bahwa sejatinya Annas bukanlah Ikhwan yang berguna, ia bermanfaat hanya pada dirinya sahaja. Adapun manfaat bagi orang lain sejatinya adalah “Sunnah” dalam artian mungkin ada yang bilang ia berguna tapi tidak ada dirinya pun orang lain menganggap, “Tak apalah” atau “Emangnya dia siapa?”. Mungkin ia merasa shalih, alim untuk dirinya sendiri sahaja sudah cukup. Biarlah orang lain menghamburkan uang bersikap hedonis, masa bodoh jika ada kemungkaran yang terjadi di depan matanya.