Minggu, 22 April 2012

Generasi Salah Arah?

Banyak peristiwa yang mendera masyarakat kita sepekan terakhir. Di antaranya ialah kekacauan para siswa SLTA dalam menanggapi pengumuman hasil ujian nasional (UN) tanggal 26 April yang lalu. Bagi siswa siswi yang lulus, banyak di antara mereka yang menyambutnya dengan hura-hura seperti konvoi di jalan raya sambil membawa kendaraan dengan ugal-ugalan sehingga membahayakan lalu lintas di berbagai jalan raya. Banyak pula yang berteriak-teriak sambil tertawa, berjingkrak-jingkrak dan mencorat-coret baju seragam mereka. Selain itu, banyak pula yang meluapkan kegembiraannya melalui pesta miras dan bermesraan dengan sesama teman sekolah lawan jenis.


Hanya sedikit sekali yang melakukan sujud syukur pada Allah atas nikmat kelulusan yang Allah anugerahkan kepada mereka.Bagi yang tidak lulus UN, mereka menanggapinya dengan berbagai tingkah yang tidak baik dan sama sekali tidak mencerminkan kematangan kepribadian sebagai hasil didikan keimanan selama bertahun-tahun sekolah. Banyak sekali yang berteriak-teriak histeris seakan nasib dan masa depan mereka hancur dan musnah. Ada pula yang merusak sekolah dan bertingkah tidak terpuji lainnya. Yang memprihatinkan lagi ialah ada yang bunuh diri seperti yang terjadi di Jambi.Kegaduhan UN ini telah terjadi beberapa tahun belakangan, khususnya sejak pemerintah menetapkan sistem nilai kelulusan ujian akhir secara nasional, tanpa melihat apakah sekolah tersebut sudah memiliki tenaga-tenaga pendidik yang handal dan fasilitas yang memadai atau tidak. Semua sekolah harus mengikuti standar nilai yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas). Akibatnya, tahun ini misalnya, bukan hanya banyak yang tidak lulus, bahkan lebih 260 sekolah yang satupun muridnya tidak ada yang lulus. Tak heran, jika sebagian pakar pendidikan dan masyarakat menilai bahwa UN adalah bentuk teror nasional yang dilancarkan pemerintah terhadap para siswa.Sesungguhnya inti persoalannya bukan pada standar yang ditetapkan Diknas. Menurut beberapa pakar pendidikan, bahwa standar tersebut sebenarnya biasa-biasa saja; bukan hal yang mustahil dicapai oleh para siswa.


'Akhwat' Itu Sudah Mulia





“Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
…”

Siapa cuba yang asing dengan lagu diatas??? Ya lagu itu sering dilantunkan ketika perayaan Hari Kartini yang diperingati pada 21 April. Banyak cara yang dilakukan dalam peringatannya terutama oleh sekolah-sekolah seperti lomba baca puisi, menyanyikan lagu diatas, memakai pakaian adat. (Jadi teringat masa-masa SD bersama teman-teman, hehe)

Senin, 16 April 2012

Hukum Musik



Ustadz, belakangan ini di kantor saya dan tempat sekitar rumah saya semarak sekali pengajian dengan musik-musik, entah itu dengan mengundang grup musik, atau pengajian memakai laptop untuk memperlihatkan gambar-gambar diiringi dengan instrumental alat musik tertentu. Ini sudah beberapa kali terjadi. Saya gerah sekali kalau mengikuti pengajian semacam ini, apalagi tempatnya di dalam masjid. Karena setahu saya musik haram hukumnya. Mohon jawabannya pak ustadz, sedih hati saya melihat banyak teman saya menyukai pengajian semacam ini. Terima kasih atas jawabannya.


Jawaban:

Benar bahwa musik itu haram, paling tidak menurut sebagian ulama yang memang mengharamkannya. Mereka berijtihad demikian berangkat dari dalil-dalil yang mereka anggap telah memvonis bahwa segala macam jenis musik adalah haram.

Minggu, 08 April 2012

Cerpen : Renunganku


Cerpen : Renunganku

Adzan Shubuh berkumandang memecah gelapnya malam dan menyajikan kesyahduan yang begitu indah. Aku segera mengambil air wudhu dan memenuhi panggilan-Nya ke Musholla terdekat. Terus berpikir aku sepanjang jalan rumah-rumah masih terlihat gelap pertanda sang empunya masih terdidur pulas. Ya tidak heran punca kenikmatan tidur memang dirasa pada saat-saat seperti ini, apalagi udara pagi yang masih terasa menusuk tulang belulang.

Minggu, 22 April 2012

Generasi Salah Arah?

Banyak peristiwa yang mendera masyarakat kita sepekan terakhir. Di antaranya ialah kekacauan para siswa SLTA dalam menanggapi pengumuman hasil ujian nasional (UN) tanggal 26 April yang lalu. Bagi siswa siswi yang lulus, banyak di antara mereka yang menyambutnya dengan hura-hura seperti konvoi di jalan raya sambil membawa kendaraan dengan ugal-ugalan sehingga membahayakan lalu lintas di berbagai jalan raya. Banyak pula yang berteriak-teriak sambil tertawa, berjingkrak-jingkrak dan mencorat-coret baju seragam mereka. Selain itu, banyak pula yang meluapkan kegembiraannya melalui pesta miras dan bermesraan dengan sesama teman sekolah lawan jenis.


Hanya sedikit sekali yang melakukan sujud syukur pada Allah atas nikmat kelulusan yang Allah anugerahkan kepada mereka.Bagi yang tidak lulus UN, mereka menanggapinya dengan berbagai tingkah yang tidak baik dan sama sekali tidak mencerminkan kematangan kepribadian sebagai hasil didikan keimanan selama bertahun-tahun sekolah. Banyak sekali yang berteriak-teriak histeris seakan nasib dan masa depan mereka hancur dan musnah. Ada pula yang merusak sekolah dan bertingkah tidak terpuji lainnya. Yang memprihatinkan lagi ialah ada yang bunuh diri seperti yang terjadi di Jambi.Kegaduhan UN ini telah terjadi beberapa tahun belakangan, khususnya sejak pemerintah menetapkan sistem nilai kelulusan ujian akhir secara nasional, tanpa melihat apakah sekolah tersebut sudah memiliki tenaga-tenaga pendidik yang handal dan fasilitas yang memadai atau tidak. Semua sekolah harus mengikuti standar nilai yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas). Akibatnya, tahun ini misalnya, bukan hanya banyak yang tidak lulus, bahkan lebih 260 sekolah yang satupun muridnya tidak ada yang lulus. Tak heran, jika sebagian pakar pendidikan dan masyarakat menilai bahwa UN adalah bentuk teror nasional yang dilancarkan pemerintah terhadap para siswa.Sesungguhnya inti persoalannya bukan pada standar yang ditetapkan Diknas. Menurut beberapa pakar pendidikan, bahwa standar tersebut sebenarnya biasa-biasa saja; bukan hal yang mustahil dicapai oleh para siswa.


'Akhwat' Itu Sudah Mulia





“Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
…”

Siapa cuba yang asing dengan lagu diatas??? Ya lagu itu sering dilantunkan ketika perayaan Hari Kartini yang diperingati pada 21 April. Banyak cara yang dilakukan dalam peringatannya terutama oleh sekolah-sekolah seperti lomba baca puisi, menyanyikan lagu diatas, memakai pakaian adat. (Jadi teringat masa-masa SD bersama teman-teman, hehe)

Senin, 16 April 2012

Hukum Musik



Ustadz, belakangan ini di kantor saya dan tempat sekitar rumah saya semarak sekali pengajian dengan musik-musik, entah itu dengan mengundang grup musik, atau pengajian memakai laptop untuk memperlihatkan gambar-gambar diiringi dengan instrumental alat musik tertentu. Ini sudah beberapa kali terjadi. Saya gerah sekali kalau mengikuti pengajian semacam ini, apalagi tempatnya di dalam masjid. Karena setahu saya musik haram hukumnya. Mohon jawabannya pak ustadz, sedih hati saya melihat banyak teman saya menyukai pengajian semacam ini. Terima kasih atas jawabannya.


Jawaban:

Benar bahwa musik itu haram, paling tidak menurut sebagian ulama yang memang mengharamkannya. Mereka berijtihad demikian berangkat dari dalil-dalil yang mereka anggap telah memvonis bahwa segala macam jenis musik adalah haram.

Minggu, 08 April 2012

Cerpen : Renunganku


Cerpen : Renunganku

Adzan Shubuh berkumandang memecah gelapnya malam dan menyajikan kesyahduan yang begitu indah. Aku segera mengambil air wudhu dan memenuhi panggilan-Nya ke Musholla terdekat. Terus berpikir aku sepanjang jalan rumah-rumah masih terlihat gelap pertanda sang empunya masih terdidur pulas. Ya tidak heran punca kenikmatan tidur memang dirasa pada saat-saat seperti ini, apalagi udara pagi yang masih terasa menusuk tulang belulang.