Selasa, 19 November 2013

Joki Ujian Nasional



UNAS,,, pernah kawan sekalian mengikuti National Exams yang satu itu? Jika pernah tentu juga sudah pernah mendengar tentang kunci jawaban yang bisa didapatkan secara gratis ataupun yang berbayar. Yang gratis kita bisa dapat menerimanya dari SMS, BBM dan lain sebagainya. yang berbayar dapat kita peroleh dari ‘toko mainan terdekat’.

Si Pensil Yang Tak Pernah Mengeluh
Sebelum menggerakkan scroll mouse lebih jauh ke bawah, di sini di point ini kita sudah sama-sama tahu bahwa joki kunci jawaban UNAS itu nyata adanya, ia bukanlah sebuah mitos atau hanyalah konspirasi makhluk yang tinggal di asteroid di antara Mars dan Jupiter. Bahkan untuk tingkat yang lebih jauh ia bukanlah sebuah rahasia Underground yang keberadaannya jauh dari kesadaraan kita
.

“Gerimis Yang Romantis”



Waktu itu sudah berlalu cukup lama, tapi masih teringat juga. Saat menghadiri sebuah acara Talk Show di tempat yang sederhana namun menancap di pikiran cukup lama. Tempatnya di SDIT Al Uswah Surabaya, jaraknya yang tidak terlalu jauh jadi penyemangat kenapa aku merasa harus datang kesana setelah mendapat pemberitahuan teman via Facebook.

Dengan pembicaranya yaitu kang Abik, atau lebih dikenal dengan Habiburahman El-Shirazy (salah tulis kah?). Seorang penulis yang kondang di negeri ini. Walau belum pernah ku sempatkan waktu membaca salah satu karyanya hingga kini. Entah mengapa walau sudah banyak teman sejawat yang sudah membaca karya beliau, belum juga menarik minat untuk membaca salah satu karyanya.

Saat itu musim penghujan sudah datang cukup lama, janji dibuat dengan beberapa teman yang meng-insya Allah-kan akan hadir pada acara itu. Saat itu seusai rapotan sehingga jadwal kosong. Namun, sayang beribu sayang. Hujan hadir cukup lebat menguatkan rasa malas. Namun teringat tekad untuk datang.

Ku menunggu kawan lain di masjid sekolah, menit berlalu batang hidung mereka belum tampak juga. Akhirnya datang sohibku seorang diri, yah mau bagaimana lagi tampaknya yang lain tidak jadi ikut. Cuaca belum membaik juga jalanan masih tergenang air di sana-sini, ditambah dengan siraman air yang tercipta dari hentakan roda mobil. Setengah celana basah, bajupun dalam keadaan lembab, dingin merasuk ke badan. Tapi ku sadari itu adalah salah satu kenikmatan yang tidak akan bisa dirasakan mereka yang tidak mau kehujanan.

Rabu, 13 November 2013

Belajar Itu Sederhana



Setelah dalam beberapa postingan saya sebelumnya yang cenderung curhat soal permasalahan-permasalahan yang dihadapi hampir setiap harinya di sekolah, saya sendiri hampir terlupa bagian yang tak kalah penting.Yaitu, bagaimana saya selama ini belajar.

Yah memang saya ini bukan siapa-siapa, artikel-artikel semacam ini justru untuk mengingatkan diri sendiri. Karena saat memberi masukan atau memberi kritik pada orang lain tidak lain kita juga belajar memenuhi masukan tadi bagi diri sendiri.

Dalam postingan sebelumnya saya sempat bingung tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Ingin bilang kurang baik tapi Negara kita sering menyabet penghargaan di berbagai bidang olimpiade, tapi kalau membaca beberapa survey tentang masalah pendidikan ya ngeri juga.

Salah satunya adalah survey tentang tingkat membaca di kalangan pelajar Indonesia yang hanya berkisar 0,1% itu berarti di antara 1000 orang pelajar hanya 1 yang benar-benar membaca di bandingkan dengan Jepang yang mencapai 8%. 

Entah valid ataupun tidak datanya pun saya lupa dari mana, (dasar penulis ga bertanggung jawab hehe) tapi jika kita tilik maka data di atas tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan. Jarang mah orang mau baca buku isinya rumus kalo dia bukan seorang pelajar yang akan menghadapi ulangan, seleksi dan punya tugas.
 

Sandiwara Pelajar




Hai kawan tidakkah kalian tau siapa kita?
Kitalah pengisi kemerdekaan bangsa ini!
Tapi tidakkah kita sedang bersandiwara?
Menjadi pelajar yang bersenang hati.

Tidakkah kita sadar hanya berpura-pura belajar.
Untuk mengisi nilai pada ujian.
Tidakkah kau lihat tiap hari kita berjajar.
Maju menuju gedung penuh kurungan.

Tidakkah kau memperhatikan?
Gerbangnya yang dari besi.
Tidakkah kau melihat pula?
Pagarnya yang tinggi dengan duri.

Dengan para penjaga di gerbangnya.
Bingung ku cari alasan bila ditanya.
Kelasnya yang tertutup jeruji besi.
Hingga mengusir sang mentari.

Dua daun pintu yang ditutup.
Dari pagi hingga petang.
Buat hati makin menciut.
Menerima materi banyaknya bukan kepalang.

Tidakkah kita sudah sering merasa?
Terpenjara oleh sekolah-sekolah kita.
Wajah-wajah belajar, wajah-wajah di penjara.
Sungguh taukah kau apa bedanya?

Angka adalah sarapan, makan siang dan malam.
Nilai tujuan membedakan kasta.
Menghafal isi buku hingga mata lebam.
Menghadapi ulangan pun terbiasa berdusta.

Tidakkah kita bertanya untuk apa bersandiwara?

Inspirated by ...
12 Nov 13

Selasa, 05 November 2013

Jangan Mau Kerjain PR...




Sebelum menggerakkan scroll mouse ke bawah, mari kita ingat-ingat sejenak tugas dari sekolah atau PR apa saja yang masih belum kita kerjakan. Jika masih ada beberapa PR yang menumpuk kerjain dulu baru baca blog orang! Hehe, becandanya ga lucu.

OK, yang kita ingat-ingat adalah hal yang kita alami sehari-hari di bangku sekolah saja. Agan Sista berangkat ke sekolah jam berapa? Dalam perjalanan memakan waktu berapa menit? Sampai di sekolah jam berapa? Jika kawan bukanlah orang pertama yang hadir di kelas, apa yang biasanya temen-temen kita kerjain?

-          Baca buku pelajaran??? “Ah engga hari ini ga ada ulangankan, lo becanda kan!!?”
-          Olah raga?? “Ga mungkin juga, masih pagi kali kelihatan masih ada yang baru bangun.”
-          Duduk-duduk becanda sama pacarnya? “Kurang ajar banget tuh,,,pasti dia ga jomblo.”
-          Oh iya ngerjain PR!!!” Apa PR apa, halaman berapa yang bener aja, kapan dikumpulin, lo dah selese belum!”

Ya itulah yang biasa saya alami di kelas karena saya paling males ngerjakan PR jujur aja, bukan karena apa-apa sih, tapi karena males aja. Kalau kata temanku karena PR itu menyebalkan ia menyita waktu-waktu kita di rumah. Bayangin kita udah di sekolahselama 9 jam eh masih diberi PR pula.

Budaya Mencontek

Pagi hari itu terasa lebih bebas dan lebih menggembirakan dari biasanya, namun juga semakin mencekam. Ya, bebas karena jam masuk dan jam pulang sekolah lebih dekat karena ulangan. Lalu mencekam tentu saja karena ulangan. Jam masih menunjukkan waktu setengah jam sebelum waktu ulangan dimulai murid-murid saling bergerombol mendiskusikan masalah yang mereka hadapi untuk menghadapi ulangan.

Salah satu siswi mengeluhkan, “Haduh, aku lho belum hafal rumusnya.” Ada juga yang berkata, “Tadi malam aku ga bisa belajar loh.” Dengan ekspresi wajah yang memelas, ada pula yang berbangga-bangga, “haha aku ga belajar.” Di sekitar murid-murid lain yang membahas beberapa macam rumus. 

Kemudian masuklah seorang anak, bagai pembawa berita yang sudah disiagakan dengan mata yang tampak berbinar dan ekspresi semangat. Setelah mengambil nafas ia berteriak ke seantero kelas “Eh, temen-temen yang jaga Pak Anu.”

Detik pertama…
Detik kedua…
Detik ketiga…

Selasa, 19 November 2013

Joki Ujian Nasional



UNAS,,, pernah kawan sekalian mengikuti National Exams yang satu itu? Jika pernah tentu juga sudah pernah mendengar tentang kunci jawaban yang bisa didapatkan secara gratis ataupun yang berbayar. Yang gratis kita bisa dapat menerimanya dari SMS, BBM dan lain sebagainya. yang berbayar dapat kita peroleh dari ‘toko mainan terdekat’.

Si Pensil Yang Tak Pernah Mengeluh
Sebelum menggerakkan scroll mouse lebih jauh ke bawah, di sini di point ini kita sudah sama-sama tahu bahwa joki kunci jawaban UNAS itu nyata adanya, ia bukanlah sebuah mitos atau hanyalah konspirasi makhluk yang tinggal di asteroid di antara Mars dan Jupiter. Bahkan untuk tingkat yang lebih jauh ia bukanlah sebuah rahasia Underground yang keberadaannya jauh dari kesadaraan kita
.

“Gerimis Yang Romantis”



Waktu itu sudah berlalu cukup lama, tapi masih teringat juga. Saat menghadiri sebuah acara Talk Show di tempat yang sederhana namun menancap di pikiran cukup lama. Tempatnya di SDIT Al Uswah Surabaya, jaraknya yang tidak terlalu jauh jadi penyemangat kenapa aku merasa harus datang kesana setelah mendapat pemberitahuan teman via Facebook.

Dengan pembicaranya yaitu kang Abik, atau lebih dikenal dengan Habiburahman El-Shirazy (salah tulis kah?). Seorang penulis yang kondang di negeri ini. Walau belum pernah ku sempatkan waktu membaca salah satu karyanya hingga kini. Entah mengapa walau sudah banyak teman sejawat yang sudah membaca karya beliau, belum juga menarik minat untuk membaca salah satu karyanya.

Saat itu musim penghujan sudah datang cukup lama, janji dibuat dengan beberapa teman yang meng-insya Allah-kan akan hadir pada acara itu. Saat itu seusai rapotan sehingga jadwal kosong. Namun, sayang beribu sayang. Hujan hadir cukup lebat menguatkan rasa malas. Namun teringat tekad untuk datang.

Ku menunggu kawan lain di masjid sekolah, menit berlalu batang hidung mereka belum tampak juga. Akhirnya datang sohibku seorang diri, yah mau bagaimana lagi tampaknya yang lain tidak jadi ikut. Cuaca belum membaik juga jalanan masih tergenang air di sana-sini, ditambah dengan siraman air yang tercipta dari hentakan roda mobil. Setengah celana basah, bajupun dalam keadaan lembab, dingin merasuk ke badan. Tapi ku sadari itu adalah salah satu kenikmatan yang tidak akan bisa dirasakan mereka yang tidak mau kehujanan.

Rabu, 13 November 2013

Belajar Itu Sederhana



Setelah dalam beberapa postingan saya sebelumnya yang cenderung curhat soal permasalahan-permasalahan yang dihadapi hampir setiap harinya di sekolah, saya sendiri hampir terlupa bagian yang tak kalah penting.Yaitu, bagaimana saya selama ini belajar.

Yah memang saya ini bukan siapa-siapa, artikel-artikel semacam ini justru untuk mengingatkan diri sendiri. Karena saat memberi masukan atau memberi kritik pada orang lain tidak lain kita juga belajar memenuhi masukan tadi bagi diri sendiri.

Dalam postingan sebelumnya saya sempat bingung tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Ingin bilang kurang baik tapi Negara kita sering menyabet penghargaan di berbagai bidang olimpiade, tapi kalau membaca beberapa survey tentang masalah pendidikan ya ngeri juga.

Salah satunya adalah survey tentang tingkat membaca di kalangan pelajar Indonesia yang hanya berkisar 0,1% itu berarti di antara 1000 orang pelajar hanya 1 yang benar-benar membaca di bandingkan dengan Jepang yang mencapai 8%. 

Entah valid ataupun tidak datanya pun saya lupa dari mana, (dasar penulis ga bertanggung jawab hehe) tapi jika kita tilik maka data di atas tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan. Jarang mah orang mau baca buku isinya rumus kalo dia bukan seorang pelajar yang akan menghadapi ulangan, seleksi dan punya tugas.
 

Sandiwara Pelajar




Hai kawan tidakkah kalian tau siapa kita?
Kitalah pengisi kemerdekaan bangsa ini!
Tapi tidakkah kita sedang bersandiwara?
Menjadi pelajar yang bersenang hati.

Tidakkah kita sadar hanya berpura-pura belajar.
Untuk mengisi nilai pada ujian.
Tidakkah kau lihat tiap hari kita berjajar.
Maju menuju gedung penuh kurungan.

Tidakkah kau memperhatikan?
Gerbangnya yang dari besi.
Tidakkah kau melihat pula?
Pagarnya yang tinggi dengan duri.

Dengan para penjaga di gerbangnya.
Bingung ku cari alasan bila ditanya.
Kelasnya yang tertutup jeruji besi.
Hingga mengusir sang mentari.

Dua daun pintu yang ditutup.
Dari pagi hingga petang.
Buat hati makin menciut.
Menerima materi banyaknya bukan kepalang.

Tidakkah kita sudah sering merasa?
Terpenjara oleh sekolah-sekolah kita.
Wajah-wajah belajar, wajah-wajah di penjara.
Sungguh taukah kau apa bedanya?

Angka adalah sarapan, makan siang dan malam.
Nilai tujuan membedakan kasta.
Menghafal isi buku hingga mata lebam.
Menghadapi ulangan pun terbiasa berdusta.

Tidakkah kita bertanya untuk apa bersandiwara?

Inspirated by ...
12 Nov 13

Selasa, 05 November 2013

Jangan Mau Kerjain PR...




Sebelum menggerakkan scroll mouse ke bawah, mari kita ingat-ingat sejenak tugas dari sekolah atau PR apa saja yang masih belum kita kerjakan. Jika masih ada beberapa PR yang menumpuk kerjain dulu baru baca blog orang! Hehe, becandanya ga lucu.

OK, yang kita ingat-ingat adalah hal yang kita alami sehari-hari di bangku sekolah saja. Agan Sista berangkat ke sekolah jam berapa? Dalam perjalanan memakan waktu berapa menit? Sampai di sekolah jam berapa? Jika kawan bukanlah orang pertama yang hadir di kelas, apa yang biasanya temen-temen kita kerjain?

-          Baca buku pelajaran??? “Ah engga hari ini ga ada ulangankan, lo becanda kan!!?”
-          Olah raga?? “Ga mungkin juga, masih pagi kali kelihatan masih ada yang baru bangun.”
-          Duduk-duduk becanda sama pacarnya? “Kurang ajar banget tuh,,,pasti dia ga jomblo.”
-          Oh iya ngerjain PR!!!” Apa PR apa, halaman berapa yang bener aja, kapan dikumpulin, lo dah selese belum!”

Ya itulah yang biasa saya alami di kelas karena saya paling males ngerjakan PR jujur aja, bukan karena apa-apa sih, tapi karena males aja. Kalau kata temanku karena PR itu menyebalkan ia menyita waktu-waktu kita di rumah. Bayangin kita udah di sekolahselama 9 jam eh masih diberi PR pula.

Budaya Mencontek

Pagi hari itu terasa lebih bebas dan lebih menggembirakan dari biasanya, namun juga semakin mencekam. Ya, bebas karena jam masuk dan jam pulang sekolah lebih dekat karena ulangan. Lalu mencekam tentu saja karena ulangan. Jam masih menunjukkan waktu setengah jam sebelum waktu ulangan dimulai murid-murid saling bergerombol mendiskusikan masalah yang mereka hadapi untuk menghadapi ulangan.

Salah satu siswi mengeluhkan, “Haduh, aku lho belum hafal rumusnya.” Ada juga yang berkata, “Tadi malam aku ga bisa belajar loh.” Dengan ekspresi wajah yang memelas, ada pula yang berbangga-bangga, “haha aku ga belajar.” Di sekitar murid-murid lain yang membahas beberapa macam rumus. 

Kemudian masuklah seorang anak, bagai pembawa berita yang sudah disiagakan dengan mata yang tampak berbinar dan ekspresi semangat. Setelah mengambil nafas ia berteriak ke seantero kelas “Eh, temen-temen yang jaga Pak Anu.”

Detik pertama…
Detik kedua…
Detik ketiga…