Kamis, 05 April 2018

Mengenai Film Cloverfield dan Multiverse

*Bukan review dan mengandung sedikit spoiler

Diantara film-film bergenre Sci Fi, Apocalypse, dan Thriller film Cloverfield, yang saat ini sudah mencapai film ke tiganya “Cloverfield Paradox” tidak terlalu terkenal seperti Interstellar, Avatar, Alien, dsb. Hampir tidak seperti film trilogi lainnya (entah ini trilogi atau bukan) film pertama “Cloverfield” dan film kedua “10 Cloverfield Lane” sukar untuk ditemui hubungannya. Di film pertama digambarkan kota Manhattan yang porak poranda akibat sosok monster raksasa ‘Clover’ yang hingga akhir film tidak dijelaskan darimana asalnya, karena memang sudut pandang yang digunakan sangat sempit.

Di film ke dua yang mengambil latar di daerah pertanian lebih dari separuh film sama sekali tidak menunjukkan satupun pertanda adanya monster raksasa yang menyerang bumi seperti yang digambarkan di film pertama. Hingga memasuki akhir film barulah dimunculkan invasi alien dengan teknologi yang lebih canggih sedang menginvasi bumi, itupun makhluk yang sangat berbeda dari film pertama. Sehingga masih sulit untuk menemukan keterkaitan diantara keduanya.

Kamis, 29 Maret 2018

Memaksa Membaca




Beberapa bulan lalu disela-sela kegiatan membersihkan meja belajar saya menyadari suatu hal. Selama menempuh tiga tahun dibangku kuliah jumlah buku yang dibaca ternyata tidak lebih dari atau masih lebih sedikit dibandingkan jumlah buku yang dibaca selama dibangku SMA. Kalau saya mencoba mengingat-ingat memang kegiatan ‘literasi’ di bangku SMA pada waktu itu terasa lebih hidup dengan lebih sering ke perputakaan daerah, pinjam-meminjam buku dengan teman, bahkan salah satu buku bergenre sejarah fiksi menjadi bahan perbincangan yang tak habis-habis dengan beberapa teman saat itu. Karya agung Tolkien trilogi The Lord of The Ring ditambah novel pembukanya The Hobbit pun bisa di khatamkan ketika SMA. (Saat itu belum terdapat Silmarillion versi terjemahan dan bahasa inggrisnya terlampau tinggi untuk dipahami.)
Entah mengapa di masa perkuliahan dan menyandang ‘status’ Mahasiswa yang notabene akses ke buku-buku berkualitas (yang ditulis oleh penulis-penulis besar) lebih banyak justru kegiatan ‘literasi’ jauh menurun. Padahal jumlah game yang dimainkanpun tidak jauh lebih banyak ketimbang pada waktu SMA (Bohong). Pada akhirnya hanya bisa tersenyum kecut ketika beberapa teman seangkatan sudah menyelesaikan buku-buku berat yang menunjang ‘idealisme’nya sebagai mahasiswa. Dosen pun mencoba memotivasi bahwa wajib hukumnya bagi mahasiswa S-1 untuk membaca setidaknya satu Jurnal dalam satu hari (yang mana hal ini juga tidak saya lakukan).

Senin, 06 Februari 2017

Tentang Flat Earth

~~Bukan artikel ilmiah, motivasi, intelektual, politik hanya sedikit pendapat yang tertuliskan saat mempelajari Bumi. (tapi yang datar)~~


 “When I orbited the Earth in a spaceship, I saw for the first time how beautiful our planet is. Mankind, let us preserve and increase this beauty, and not destroy it!” Yuri Gagarin

Pada tahun 2013, ada sebuah artikel yang cukup menghebohkan mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Artikel tersebut berjudul “Indonesian kids don’t know how stupid they are.” Yang ditulis oleh Elizabeth Pisani seorang WNA asal Amerika Serikat, epidemiologis, dan juga seorang mantan jurnalis pada situs indonesiaetc.com [1]. Singkat cerita Pisani menyampaikan betapa memprihatinkannya intelektualitas anak-anak Indonesia berdasarkan hasil survey PISA kala itu. Hasil survey menunjukkan posisi Indonesia berada pada paling bawah diantara 65 negara lain dan tidak terlalu membaik pada hasil survey selanjutnya [2].

Penulis yang kala itu masih menyandang status sebagai siswa SMA, sedikit tidak percaya mengenai hasil survey tersebut. Karena pada nyatanya tidak jarang olimpiade sains tingkat internasional dijuarai oleh pemuda pemudi Indonesia. Lantas bagaimana bisa Indonesia menjadi Negara dengan peringkat terendah pada survey PISA? Hal ini terjadi karena mereka yang berhasil menjuarai olimpiade tingkat internasional itu bukanlah representasi utuh pelajar di Indonesia, mungkin mereka mewakili teman-teman kita yang berada di perkotaan dengan berbagai factor pembelajaran yang mencukupi. Namun, secara umum pelajar Indonesia masih berada di bawah negara-negara lain dalam hal pemahaman terhadap sains dasar.


Selasa, 16 Agustus 2016

Merasa Benar Sendiri


Ketika saya memilih suatu jawaban dalam soal pilihan ganda, tentunya saya akan
memilih jawaban A (misalnya) dikarenakan menurut perhitungan, ingatan, dan analisa
saya jawabannya adalah A. Pastinya saya yakin dan merasa jawaban yang benar adalah A.
Tidak mungkin saya memilih jawaban A karena didasarkan 'merasa salah' ataupun hanya ingin berbeda kan?

Di tempat yang mengusung kebebasan berbicara, apabila saya melihat teman saya menjawab B
tentunya saya berhak menjelaskan pada teman saya dengan perhitungan, ingatan, dan analisa saya
bahwa jawaban yang benar adalah A.

Tentu saya tidak berhak menyerobot LJK teman saya tadi dan mengganti jawabannya menjadi A.
Tapi sayangnya, saya tidak memiliki kunci jawaban dari Dosen bahwa jawaban yang benar adalah A.


Sumber gambar : http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000007581627/agan-tau-ljk-inilah-tips-menghindari-kesalahan-menjawab-tips-ujian-pic/

Senin, 11 Juli 2016

Ekosentris


Perubahan lingkungan yang membawa dampak negatif terhadap bumi kita diakibatkan oleh permintaan berlebih manusia terhadap alam ini dan kemudahan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Sederhananya manusia memandang objek selain dirinya sebagai pemenuh kebutuhan hidupnya.

Dahulu kala berkembang kepercayaan animisme yang memercayai bahwa objek selain manusia memiliki kehidupan.
“kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dan sebagainya)”
-        Kbbi.web.id

Bukan hendak berbicara ini salah atau benar. Manusia mempercayai bahwa kehidupan yang mendiami adalah roh yang memiliki keistimewaan tertentu. Melalui kepercayaan seperti ini manusia menempatkan dirinya berada di bawah sistem tersebut. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika dahulu seringkali ditemukan ritual-ritual pemberian sajian tertentu.

Menganggap suatu objek atau sumber daya memiliki kekuatan tertentu, jangankan untuk memanfaatkan sumber daya tersebut bersikap terhadapnya-pun harus sangat berhati-hati.

Seiring berjalannya waktu manusia mengerti bahwa mereka memiliki superioritas terhadap objek lain di muka bumi. Menganggap dirinyalah yang memiliki hak untuk hidup di muka bumi. Egosentris, sebuah ke-ego-isan. 
Kelud

Hingga pada akhirnya dunia tersadar melalui (salah satunya) buku Silent Spring karya Rachel Carson yang menggambarkan dampak negative pestisida terhadap ekositem air dan tanah. Ego yang pada asalnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia tersebut justeru berdampak buruk pada manusia sendiri.


Lalu dimanakah manusia harus menempatkan dirinya?
Di bawah ‘alam’, di atas ‘alam’, atau sejajar dengan ‘alam’?

Kamis, 05 April 2018

Mengenai Film Cloverfield dan Multiverse

*Bukan review dan mengandung sedikit spoiler

Diantara film-film bergenre Sci Fi, Apocalypse, dan Thriller film Cloverfield, yang saat ini sudah mencapai film ke tiganya “Cloverfield Paradox” tidak terlalu terkenal seperti Interstellar, Avatar, Alien, dsb. Hampir tidak seperti film trilogi lainnya (entah ini trilogi atau bukan) film pertama “Cloverfield” dan film kedua “10 Cloverfield Lane” sukar untuk ditemui hubungannya. Di film pertama digambarkan kota Manhattan yang porak poranda akibat sosok monster raksasa ‘Clover’ yang hingga akhir film tidak dijelaskan darimana asalnya, karena memang sudut pandang yang digunakan sangat sempit.

Di film ke dua yang mengambil latar di daerah pertanian lebih dari separuh film sama sekali tidak menunjukkan satupun pertanda adanya monster raksasa yang menyerang bumi seperti yang digambarkan di film pertama. Hingga memasuki akhir film barulah dimunculkan invasi alien dengan teknologi yang lebih canggih sedang menginvasi bumi, itupun makhluk yang sangat berbeda dari film pertama. Sehingga masih sulit untuk menemukan keterkaitan diantara keduanya.

Kamis, 29 Maret 2018

Memaksa Membaca




Beberapa bulan lalu disela-sela kegiatan membersihkan meja belajar saya menyadari suatu hal. Selama menempuh tiga tahun dibangku kuliah jumlah buku yang dibaca ternyata tidak lebih dari atau masih lebih sedikit dibandingkan jumlah buku yang dibaca selama dibangku SMA. Kalau saya mencoba mengingat-ingat memang kegiatan ‘literasi’ di bangku SMA pada waktu itu terasa lebih hidup dengan lebih sering ke perputakaan daerah, pinjam-meminjam buku dengan teman, bahkan salah satu buku bergenre sejarah fiksi menjadi bahan perbincangan yang tak habis-habis dengan beberapa teman saat itu. Karya agung Tolkien trilogi The Lord of The Ring ditambah novel pembukanya The Hobbit pun bisa di khatamkan ketika SMA. (Saat itu belum terdapat Silmarillion versi terjemahan dan bahasa inggrisnya terlampau tinggi untuk dipahami.)
Entah mengapa di masa perkuliahan dan menyandang ‘status’ Mahasiswa yang notabene akses ke buku-buku berkualitas (yang ditulis oleh penulis-penulis besar) lebih banyak justru kegiatan ‘literasi’ jauh menurun. Padahal jumlah game yang dimainkanpun tidak jauh lebih banyak ketimbang pada waktu SMA (Bohong). Pada akhirnya hanya bisa tersenyum kecut ketika beberapa teman seangkatan sudah menyelesaikan buku-buku berat yang menunjang ‘idealisme’nya sebagai mahasiswa. Dosen pun mencoba memotivasi bahwa wajib hukumnya bagi mahasiswa S-1 untuk membaca setidaknya satu Jurnal dalam satu hari (yang mana hal ini juga tidak saya lakukan).

Senin, 06 Februari 2017

Tentang Flat Earth

~~Bukan artikel ilmiah, motivasi, intelektual, politik hanya sedikit pendapat yang tertuliskan saat mempelajari Bumi. (tapi yang datar)~~


 “When I orbited the Earth in a spaceship, I saw for the first time how beautiful our planet is. Mankind, let us preserve and increase this beauty, and not destroy it!” Yuri Gagarin

Pada tahun 2013, ada sebuah artikel yang cukup menghebohkan mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Artikel tersebut berjudul “Indonesian kids don’t know how stupid they are.” Yang ditulis oleh Elizabeth Pisani seorang WNA asal Amerika Serikat, epidemiologis, dan juga seorang mantan jurnalis pada situs indonesiaetc.com [1]. Singkat cerita Pisani menyampaikan betapa memprihatinkannya intelektualitas anak-anak Indonesia berdasarkan hasil survey PISA kala itu. Hasil survey menunjukkan posisi Indonesia berada pada paling bawah diantara 65 negara lain dan tidak terlalu membaik pada hasil survey selanjutnya [2].

Penulis yang kala itu masih menyandang status sebagai siswa SMA, sedikit tidak percaya mengenai hasil survey tersebut. Karena pada nyatanya tidak jarang olimpiade sains tingkat internasional dijuarai oleh pemuda pemudi Indonesia. Lantas bagaimana bisa Indonesia menjadi Negara dengan peringkat terendah pada survey PISA? Hal ini terjadi karena mereka yang berhasil menjuarai olimpiade tingkat internasional itu bukanlah representasi utuh pelajar di Indonesia, mungkin mereka mewakili teman-teman kita yang berada di perkotaan dengan berbagai factor pembelajaran yang mencukupi. Namun, secara umum pelajar Indonesia masih berada di bawah negara-negara lain dalam hal pemahaman terhadap sains dasar.


Selasa, 16 Agustus 2016

Merasa Benar Sendiri


Ketika saya memilih suatu jawaban dalam soal pilihan ganda, tentunya saya akan
memilih jawaban A (misalnya) dikarenakan menurut perhitungan, ingatan, dan analisa
saya jawabannya adalah A. Pastinya saya yakin dan merasa jawaban yang benar adalah A.
Tidak mungkin saya memilih jawaban A karena didasarkan 'merasa salah' ataupun hanya ingin berbeda kan?

Di tempat yang mengusung kebebasan berbicara, apabila saya melihat teman saya menjawab B
tentunya saya berhak menjelaskan pada teman saya dengan perhitungan, ingatan, dan analisa saya
bahwa jawaban yang benar adalah A.

Tentu saya tidak berhak menyerobot LJK teman saya tadi dan mengganti jawabannya menjadi A.
Tapi sayangnya, saya tidak memiliki kunci jawaban dari Dosen bahwa jawaban yang benar adalah A.


Sumber gambar : http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000007581627/agan-tau-ljk-inilah-tips-menghindari-kesalahan-menjawab-tips-ujian-pic/

Senin, 11 Juli 2016

Ekosentris


Perubahan lingkungan yang membawa dampak negatif terhadap bumi kita diakibatkan oleh permintaan berlebih manusia terhadap alam ini dan kemudahan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Sederhananya manusia memandang objek selain dirinya sebagai pemenuh kebutuhan hidupnya.

Dahulu kala berkembang kepercayaan animisme yang memercayai bahwa objek selain manusia memiliki kehidupan.
“kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dan sebagainya)”
-        Kbbi.web.id

Bukan hendak berbicara ini salah atau benar. Manusia mempercayai bahwa kehidupan yang mendiami adalah roh yang memiliki keistimewaan tertentu. Melalui kepercayaan seperti ini manusia menempatkan dirinya berada di bawah sistem tersebut. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika dahulu seringkali ditemukan ritual-ritual pemberian sajian tertentu.

Menganggap suatu objek atau sumber daya memiliki kekuatan tertentu, jangankan untuk memanfaatkan sumber daya tersebut bersikap terhadapnya-pun harus sangat berhati-hati.

Seiring berjalannya waktu manusia mengerti bahwa mereka memiliki superioritas terhadap objek lain di muka bumi. Menganggap dirinyalah yang memiliki hak untuk hidup di muka bumi. Egosentris, sebuah ke-ego-isan. 
Kelud

Hingga pada akhirnya dunia tersadar melalui (salah satunya) buku Silent Spring karya Rachel Carson yang menggambarkan dampak negative pestisida terhadap ekositem air dan tanah. Ego yang pada asalnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia tersebut justeru berdampak buruk pada manusia sendiri.


Lalu dimanakah manusia harus menempatkan dirinya?
Di bawah ‘alam’, di atas ‘alam’, atau sejajar dengan ‘alam’?