Selasa, 19 November 2013

Joki Ujian Nasional



UNAS,,, pernah kawan sekalian mengikuti National Exams yang satu itu? Jika pernah tentu juga sudah pernah mendengar tentang kunci jawaban yang bisa didapatkan secara gratis ataupun yang berbayar. Yang gratis kita bisa dapat menerimanya dari SMS, BBM dan lain sebagainya. yang berbayar dapat kita peroleh dari ‘toko mainan terdekat’.

Si Pensil Yang Tak Pernah Mengeluh
Sebelum menggerakkan scroll mouse lebih jauh ke bawah, di sini di point ini kita sudah sama-sama tahu bahwa joki kunci jawaban UNAS itu nyata adanya, ia bukanlah sebuah mitos atau hanyalah konspirasi makhluk yang tinggal di asteroid di antara Mars dan Jupiter. Bahkan untuk tingkat yang lebih jauh ia bukanlah sebuah rahasia Underground yang keberadaannya jauh dari kesadaraan kita
.
Buktinya kita tahu, teman-teman kita tahu baik mereka yang bersekolah di sekolah favorit maupun pinggiran, guru-guru kita tahu cobalah tanyakan kepada mereka perihal ini, orang tua kita juga tahu, para wartawan selalu istiqomah memberitakannya saat masa-masa UNAS, pengamat pendidikan tahu, satpam sekolah juga mengetahui, intinya mereka yang mengenal pendidikan Indonesia sudah pasti pernah mendengar hal ini. Jadil Joki UNAS adalah sebuah rahasia umum yang bukan berarti “A Secret That Known by Many People” tapi “A Secret That Announced to Many People”.

Semua orang sudah tahu tiap tahun jauh sebelum UNAS hal ini sudah menjadi perbincangan di antara para siswa, tapi tampaknya mereka memilih diam ataupun berusaha menyembunyikan topic yang masih dianggap tabu ini dengan berbisik-bisik. yang menjadi pertanyaan adalah kepada siapa kita mau menyembunyikan rahasia umum ini??? Yang lebih mengkhawatirkan jika semua biasa-biasa saja maka hal itu sudahlah menjadi hal yang lumrah.

Menjadi lumrah karena terlalu sering budaya yang menjadi cikal bakalnya sudah dianggap lumrah yaitu mencontek. Ya tentunya bukan berarti mencontek tidak boleh, boleh saja jika kita membantu teman yang kesulitan ataupun yang meletakkan dirinya dalam kesulitan dalam pelajaran. Masalahnya apabila kebiasaan seperti itu diorganisir serta disutradarai hingga menjadi adegan sembunyi-sembunyi tingkat tinggi. Rasanya aneh bukan??

Jika hal itu terjadi entah mengapa membingungkan siapa yang akan kita salahkan (Mending salahkan sifat-sifat syaitan yang ada pada manusia saja biar fair). Ingin  mengatakan bahwa tindakannya salah pada teman kita  yang memilih paket gratis maupun berbayar rasanya sulit karena memang sudah begitu terorganisir dan dianggap sudah biasa oleh banyak orang. Ingin menyalahkan Pemerintah juga untuk apa, bukannya mereka sudah melakukan yang terbaik untuk mendorong standar pendidikan menjadi lebih tinggi setiap tahun?

Bagaimana bisa hal yang terorganisir itu ada? Jawabannya sederhana ia merupakan manifestasi dari keburukan yang ada di pendidikan ini. Selanjutnya ia berkolaborasi dengan manajemen yang handal. Hingga pada akhirnya ia menghasilkan berbagai macam metode yang berbeda setiap tahunnya.

Bagi kita para pengguna entah untuk mengisi jawaban yang kosong atau hanya untuk memeriksa jawaban saja mengapa bisa meletakkan kepercayaan pada joki-joki yang tidak kita kenal itu? Bagaimana kita bisa mempercayai hal-hal yang tidak kita ketahui prosesnya jika setidaknya kita berpikir, “Mereka orang-orang professional yang terorganisir. Serahkan saja pada mereka.”Jika tiap tahun stagnan seperti ini maka jangan heran jika suatu saat soal tiap ruangan berbeda tentunya berbeda juga tiap individu. Akan lebih berat bagi adik-adik kelas nantinya.

Jika begitu, ada yang tidak benar atau semua benar? Entahlah.

Pernahkah kita berbangga diri walau mendapat nilai yang kurang memuaskan, pernahkah kita mendapat pujian jika mendapat nilai yang kurang memuaskan… Ada film mengenai pendidikan yang saya punya, filmnya berasal dari Singapura di situ ada salah seorang guru yang berkata pada para muridnya (kurang lebih), “Barang siapa yang nilainya naik dari 25 ke 30 atau 30 ke 35 bahkan lebih, kemajuan kalian bagus dan aku akan memberi kalian hadiah. Aku yakin kalian bisa lebih baik seterusnya.”

Sebagai penutup, kita tahu bahwa kita tidak mungkin meninggalkan teman kita yang tertinggal pada satu dua bidang pelajaran. Saya yakin itu, tetapi sayangnya UNAS tidak seperti itu walaupun dinilai sebagai pengukur tindak pendidikan di daerah dan pusat. Nyatanya hal ini memang menakutkan. Hingga muncullah obat penenang berupa bocoran-bocoran.

Sampai kapan akan seperti itu?
12 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 19 November 2013

Joki Ujian Nasional



UNAS,,, pernah kawan sekalian mengikuti National Exams yang satu itu? Jika pernah tentu juga sudah pernah mendengar tentang kunci jawaban yang bisa didapatkan secara gratis ataupun yang berbayar. Yang gratis kita bisa dapat menerimanya dari SMS, BBM dan lain sebagainya. yang berbayar dapat kita peroleh dari ‘toko mainan terdekat’.

Si Pensil Yang Tak Pernah Mengeluh
Sebelum menggerakkan scroll mouse lebih jauh ke bawah, di sini di point ini kita sudah sama-sama tahu bahwa joki kunci jawaban UNAS itu nyata adanya, ia bukanlah sebuah mitos atau hanyalah konspirasi makhluk yang tinggal di asteroid di antara Mars dan Jupiter. Bahkan untuk tingkat yang lebih jauh ia bukanlah sebuah rahasia Underground yang keberadaannya jauh dari kesadaraan kita
.
Buktinya kita tahu, teman-teman kita tahu baik mereka yang bersekolah di sekolah favorit maupun pinggiran, guru-guru kita tahu cobalah tanyakan kepada mereka perihal ini, orang tua kita juga tahu, para wartawan selalu istiqomah memberitakannya saat masa-masa UNAS, pengamat pendidikan tahu, satpam sekolah juga mengetahui, intinya mereka yang mengenal pendidikan Indonesia sudah pasti pernah mendengar hal ini. Jadil Joki UNAS adalah sebuah rahasia umum yang bukan berarti “A Secret That Known by Many People” tapi “A Secret That Announced to Many People”.

Semua orang sudah tahu tiap tahun jauh sebelum UNAS hal ini sudah menjadi perbincangan di antara para siswa, tapi tampaknya mereka memilih diam ataupun berusaha menyembunyikan topic yang masih dianggap tabu ini dengan berbisik-bisik. yang menjadi pertanyaan adalah kepada siapa kita mau menyembunyikan rahasia umum ini??? Yang lebih mengkhawatirkan jika semua biasa-biasa saja maka hal itu sudahlah menjadi hal yang lumrah.

Menjadi lumrah karena terlalu sering budaya yang menjadi cikal bakalnya sudah dianggap lumrah yaitu mencontek. Ya tentunya bukan berarti mencontek tidak boleh, boleh saja jika kita membantu teman yang kesulitan ataupun yang meletakkan dirinya dalam kesulitan dalam pelajaran. Masalahnya apabila kebiasaan seperti itu diorganisir serta disutradarai hingga menjadi adegan sembunyi-sembunyi tingkat tinggi. Rasanya aneh bukan??

Jika hal itu terjadi entah mengapa membingungkan siapa yang akan kita salahkan (Mending salahkan sifat-sifat syaitan yang ada pada manusia saja biar fair). Ingin  mengatakan bahwa tindakannya salah pada teman kita  yang memilih paket gratis maupun berbayar rasanya sulit karena memang sudah begitu terorganisir dan dianggap sudah biasa oleh banyak orang. Ingin menyalahkan Pemerintah juga untuk apa, bukannya mereka sudah melakukan yang terbaik untuk mendorong standar pendidikan menjadi lebih tinggi setiap tahun?

Bagaimana bisa hal yang terorganisir itu ada? Jawabannya sederhana ia merupakan manifestasi dari keburukan yang ada di pendidikan ini. Selanjutnya ia berkolaborasi dengan manajemen yang handal. Hingga pada akhirnya ia menghasilkan berbagai macam metode yang berbeda setiap tahunnya.

Bagi kita para pengguna entah untuk mengisi jawaban yang kosong atau hanya untuk memeriksa jawaban saja mengapa bisa meletakkan kepercayaan pada joki-joki yang tidak kita kenal itu? Bagaimana kita bisa mempercayai hal-hal yang tidak kita ketahui prosesnya jika setidaknya kita berpikir, “Mereka orang-orang professional yang terorganisir. Serahkan saja pada mereka.”Jika tiap tahun stagnan seperti ini maka jangan heran jika suatu saat soal tiap ruangan berbeda tentunya berbeda juga tiap individu. Akan lebih berat bagi adik-adik kelas nantinya.

Jika begitu, ada yang tidak benar atau semua benar? Entahlah.

Pernahkah kita berbangga diri walau mendapat nilai yang kurang memuaskan, pernahkah kita mendapat pujian jika mendapat nilai yang kurang memuaskan… Ada film mengenai pendidikan yang saya punya, filmnya berasal dari Singapura di situ ada salah seorang guru yang berkata pada para muridnya (kurang lebih), “Barang siapa yang nilainya naik dari 25 ke 30 atau 30 ke 35 bahkan lebih, kemajuan kalian bagus dan aku akan memberi kalian hadiah. Aku yakin kalian bisa lebih baik seterusnya.”

Sebagai penutup, kita tahu bahwa kita tidak mungkin meninggalkan teman kita yang tertinggal pada satu dua bidang pelajaran. Saya yakin itu, tetapi sayangnya UNAS tidak seperti itu walaupun dinilai sebagai pengukur tindak pendidikan di daerah dan pusat. Nyatanya hal ini memang menakutkan. Hingga muncullah obat penenang berupa bocoran-bocoran.

Sampai kapan akan seperti itu?
12 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar