Minggu, 09 Februari 2014

Hutan Yang Menua

Bagaimana rasanya memasuki hutan purba seperti Mirkwood yang diceritakan dalam sebuah novel dan film fiksi The Hobbit? Bagaimana rasanya memasuki hutan antah berantah seperti yang dialami petualang Indiana Jones? Dapatkah kita merasakannya sekarang ini?
Ilustrasi Mirkwood 'The Hobbit'

Sayangnya sebagian besar dari kita belumlah berkesempatan untuk merasakannya. Banyak yang berkata untuk mewariskan hutan bagi anak cucu kita, namun sebenarnya slogan ini terkesan terlambat. Hutan yang sekarang kita kenal adalah hutan dengan beberapa pos penjagaan di setiap sisinya serta gerbang pintu masuk bagi pengunjung. Di hutan ini cahaya matahari masuk jauh lebih banyak, terdapat pula jalan-jalan setapak yang mulai diperkokoh dengan semen, populasi yang menghuninya juga semakin bertambah sepi. Sebab bukanlah itu hutan bentukan alam.

Tidak akan indah lagi apabila nanti kita hanya tahu hutan yang terisi dari pohon-pohon beton, dengan gas monooksida yang keluar dari sebagian besar populasinya, lalu kaca-kaca yang terhampar begitu tinggi memantulkan kenampakan hutan itu. Hutan yang kita inginkan adalah sebuah hutan purba yang merupakan bentukan alami kecerdasan alam.

Memasuki hutan yang sinar matahari hanya tampak seperti garis-garis kecil akibat atap dedaunan lebat yang ditopang pohon-pohon tinggi nan kokoh. Mencium aroma khas akibat lapisan dedaunan yang terus mengalami pembusukan dilantai-lantai hutan. Merasakan belaian dedaunan dari semak-semak serta akar dan batang yang menjuntai. Melihat orang utan yang bergelantungan, kera-kera yang melompat bebas diantara dahan-dahan pohon. Dan yang tak kalah penting adalah mendengarkan suara-suara penghuni hutan yang tak mampu bicara.

Pohon-pohon tua itu turut andil dalam penyerapan karbon-karbon yang berceceran akibat ulah manusia. Pohon-pohon besar menyerap karbon jauh lebih banyak yang berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan mereka. Alhasil karena itu bumi akan lebih lama menjadi tempat yang masih layak untuk menopang hidup spesies manusia. reference

Tak hanya itu kemampuan hutan-hutan tua. Pohon-pohon yang pada akhirnya telah kehabisan masa hidupnya dan tak mampu lagi menopang beratnya akan jatuh dan menjadi tempat tinggal bagi sebagian spesies yang lain. Hingga lama-kelamaan pohon tua itu akan dihabisi massanya oleh mikroorganisme-mikroorganisme hingga menjadi molekul-molekul yang dapat menopang hidup pohon-pohon muda. Demikianlah siklus Biogeokimia yang dipelajari siswa siswi dalam bangku sekolah berjalan.

Hutan tua dan alami sepeti yang Tuhan berikan seperti hutan di Borneo juga merupakan sebuah perpustakaan informasi yang belum semuanya telah dibaca oleh ilmu pengetahuan. Menebangnya walaupun dengan metoda tebang pilih tidak lain seperti halnya membakar sebuah ensiklopedi yang baru kita baca hingga bab 1 saja.

Informasi ini dapat menjadi sebuah inspirasi bagi para sastrawan, bagi para pelukis yang ingin menyejukkan mata, dan menjadi objek gambar bagi anak-anak kecil. Kita tidak mau apabila kelak ditanya seperti gambaran hutan kita tak dapat mengingatnya dalam benak.

Hutan-hutan ini merupakan jejak-jejak firdaus yang masih terdapat dalam bumi. Hutan di Indonesia sudah memberi keuntungan yang begitu banyak bagi masyarakat. Menghancurkannya berarti juga menghancurkan tabung-tabung gas hasil emisi karbon manusia.
Protect Paradise berarti melindungi jejak-jejak gambaran firdaus yang ada di bumi. Tidak lain adalah untuk melindungi penghuni utama gambaran firdaus tersebut…


4 komentar:

  1. Harus ada pergerakan mulai dari diri sendiri, sekarang juga....!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, terimakasih telah mengingatkan...

      Hapus
  2. saya setuju dengan tulisa anda..."Banyak yang berkata untuk mewariskan hutan bagi anak cucu kita, namun sebenarnya slogan ini terkesan terlambat" ... mungkin karena perilaku kebanyakan orang yang terbiasa dengan slogan bukan realita ... bravo anna ....

    BalasHapus

Minggu, 09 Februari 2014

Hutan Yang Menua

Bagaimana rasanya memasuki hutan purba seperti Mirkwood yang diceritakan dalam sebuah novel dan film fiksi The Hobbit? Bagaimana rasanya memasuki hutan antah berantah seperti yang dialami petualang Indiana Jones? Dapatkah kita merasakannya sekarang ini?
Ilustrasi Mirkwood 'The Hobbit'

Sayangnya sebagian besar dari kita belumlah berkesempatan untuk merasakannya. Banyak yang berkata untuk mewariskan hutan bagi anak cucu kita, namun sebenarnya slogan ini terkesan terlambat. Hutan yang sekarang kita kenal adalah hutan dengan beberapa pos penjagaan di setiap sisinya serta gerbang pintu masuk bagi pengunjung. Di hutan ini cahaya matahari masuk jauh lebih banyak, terdapat pula jalan-jalan setapak yang mulai diperkokoh dengan semen, populasi yang menghuninya juga semakin bertambah sepi. Sebab bukanlah itu hutan bentukan alam.

Tidak akan indah lagi apabila nanti kita hanya tahu hutan yang terisi dari pohon-pohon beton, dengan gas monooksida yang keluar dari sebagian besar populasinya, lalu kaca-kaca yang terhampar begitu tinggi memantulkan kenampakan hutan itu. Hutan yang kita inginkan adalah sebuah hutan purba yang merupakan bentukan alami kecerdasan alam.

Memasuki hutan yang sinar matahari hanya tampak seperti garis-garis kecil akibat atap dedaunan lebat yang ditopang pohon-pohon tinggi nan kokoh. Mencium aroma khas akibat lapisan dedaunan yang terus mengalami pembusukan dilantai-lantai hutan. Merasakan belaian dedaunan dari semak-semak serta akar dan batang yang menjuntai. Melihat orang utan yang bergelantungan, kera-kera yang melompat bebas diantara dahan-dahan pohon. Dan yang tak kalah penting adalah mendengarkan suara-suara penghuni hutan yang tak mampu bicara.

Pohon-pohon tua itu turut andil dalam penyerapan karbon-karbon yang berceceran akibat ulah manusia. Pohon-pohon besar menyerap karbon jauh lebih banyak yang berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan mereka. Alhasil karena itu bumi akan lebih lama menjadi tempat yang masih layak untuk menopang hidup spesies manusia. reference

Tak hanya itu kemampuan hutan-hutan tua. Pohon-pohon yang pada akhirnya telah kehabisan masa hidupnya dan tak mampu lagi menopang beratnya akan jatuh dan menjadi tempat tinggal bagi sebagian spesies yang lain. Hingga lama-kelamaan pohon tua itu akan dihabisi massanya oleh mikroorganisme-mikroorganisme hingga menjadi molekul-molekul yang dapat menopang hidup pohon-pohon muda. Demikianlah siklus Biogeokimia yang dipelajari siswa siswi dalam bangku sekolah berjalan.

Hutan tua dan alami sepeti yang Tuhan berikan seperti hutan di Borneo juga merupakan sebuah perpustakaan informasi yang belum semuanya telah dibaca oleh ilmu pengetahuan. Menebangnya walaupun dengan metoda tebang pilih tidak lain seperti halnya membakar sebuah ensiklopedi yang baru kita baca hingga bab 1 saja.

Informasi ini dapat menjadi sebuah inspirasi bagi para sastrawan, bagi para pelukis yang ingin menyejukkan mata, dan menjadi objek gambar bagi anak-anak kecil. Kita tidak mau apabila kelak ditanya seperti gambaran hutan kita tak dapat mengingatnya dalam benak.

Hutan-hutan ini merupakan jejak-jejak firdaus yang masih terdapat dalam bumi. Hutan di Indonesia sudah memberi keuntungan yang begitu banyak bagi masyarakat. Menghancurkannya berarti juga menghancurkan tabung-tabung gas hasil emisi karbon manusia.
Protect Paradise berarti melindungi jejak-jejak gambaran firdaus yang ada di bumi. Tidak lain adalah untuk melindungi penghuni utama gambaran firdaus tersebut…


4 komentar:

  1. Harus ada pergerakan mulai dari diri sendiri, sekarang juga....!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, terimakasih telah mengingatkan...

      Hapus
  2. saya setuju dengan tulisa anda..."Banyak yang berkata untuk mewariskan hutan bagi anak cucu kita, namun sebenarnya slogan ini terkesan terlambat" ... mungkin karena perilaku kebanyakan orang yang terbiasa dengan slogan bukan realita ... bravo anna ....

    BalasHapus