Jumat, 29 Juni 2012

Saladin The Wise


Teringat beberapa waktu lalu di salah satu stasiun TV menayangkan riwayat singkat tentang jenderal-jenderal perang paling hebat sepanjang sejarah. Wah, saya palingkan semua perhatian menuju TV dalam fikiran, ‘wah pasti jika bukan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmed II) maka setidaknya Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi harus masuk dalam salah satunya. ‘

Tapi alangkah kecewa dan heran saya, kerana hingga akhir sesi tiada satupun nama Muslimin tercantum di sana. Saya bukalah FB ternyata ada beberapa ‘kawan Dakwah’ yang menuliskan kekecewaan yang sama pada status FB-nya. Heran betul saya, entah apa mungkin penilaian semacam itu sudah objektif atau ada ‘agenda-agenda tertentu’ terkait penenggelaman sejarah emas Umat Islam (Wallahu A’alam).

Ini pun berdampak negative terhadap figuritas yang dimiliki pemuda Muslim, sebagian condong memfigurkan Ladi Gaga dengan segala kontroversinya maupun Justin Bieber yang didaulat sebagai calon Michael Jackson II. Ketika kedua tokoh itu dikritik habis-habisan dah yang membela, untuk membeli tiketnya mereka rela keluar uang besar, antre dari pagi dsb. Jelas-jelas para pemuda sudah salah memilih orang sebagai ‘uswatun hasanah’nya . Apakah mereka sedia melakukan itu untuk kemajuan (jangan agama dulu nanti terlalu muluk) bangsa, sector pendidikan dengan menabung membeli buku maupun semacamnya…


Apalagi jika hal itu dilakukan pemuda Muslim, katanya sih karena tokoh tersebut mengajarkan pantang menyerah dan optimism. Seberapa hebat sih moral value mereka dibanding pengaruh negatifnya? Seberapa hebat nama mereka akan terkenang dalam sejarah seperti Pahlawan Hithin Dan Pembela Al-Quds ini???

Shalahuddin bin Yusuf bin Ayyub lah namanya, Shalahuddin Al-Ayyubi kita biasa mendengarnya, Saladin bagi lidah orang-orang Europa. Berasal dari kaum Kurdistan (Sekitar Utara Irak). 532H/1137M lahir dari keluarga terhormat yang memiliki hubungan erat dengan para petinggi di Baghdad.

Tumbuh bersama keluarga kerajaan yang tidak lepas dari pendidikan perang maupun akidah yang kokoh. Tumbuh beserta para ksatria, salah satu jabatan pertamanya adalah mulai dari Kepala Keamanan di Damaskus hingga memegang kuasa di Kairo Ia lalui dengan apik. Hingga pada suatu saat  rakyat Damaskus memintanya datang untuk menghentikan arus kehancuran Suriah akibat perang saudara dan bayang-bayang kaum Salibis.

Melalui kebijakan-kebijakan politik yang bagus akhirnya ia mempersatukan wilayah-wilayah umat Islam hingga membentuk kerajaan yang membentang dari dari Kurdistan, Suriah, Mesir, Barqa dan wilayah-wilayah di utara Afrika. Dan mempersiapkan mimpinya yaitu Pembebasan atas Al-Quds.

Perang Salib
Adalah agresi kaum Kristen Europa selama kurang lebih  dua abad di bumi Islam. Beberapa sebab dan motifnya adalah.

  • -          Dendam bangsa Cristian Europa terhadap Muslim.
  • -          Permintaan Kaisar Alexis Comnenus.
  • -          Kebohongan dan ke-lebay-an yang dibuat-buat para peziarah Chirstian sepulang dari Baitul Maqdis.
Tabuhan genderang perang ditabuh oleh sang Paus berisi ajakan kepada seluruh kaum Europa untuk mengadakan ‘Holy War’ merebut Al-Quds dari tangan Muslim disiarkan melalui gereja-gereja guna membakar semangat Kristen Europa. Dan akhirnya berhasil mendudukinya pada 492H/1099M akibat kondisi umat Muslim yang pelik kerana pertentangan, perang saudara, juga dengan merajalelanya bid’ah-bid’ah masa Dinasti Fathimiyah.

Kondisi yang sangat miris akhirnya tergambarkan, di bumi Al-Quds, “Adapun mereka orang-orang yang dibiarkan hidup oleh pasukan Eropa karena hartanya saja akhirnya mereka pun dibunuh tanpa peduli dan tanpa belas kasihan hingga orang-orang Islam terpaksa bunuh diri dengan melemparkan diri dari rumah-rumah mereka. Sebagian ada yang dibakar hidup-hidup. Sebagian yang lain diseret dari persembunyian mereka ke alun-alun dan dibunuh satu per satu. Cucuran air mata kaum wanita, jeritan tangis anak-anak, dan kesucian tempat Isa mengampuni orang-orang yang membunuhnya tidak meredakan emosi kaum Kristen.”( PHDPA cet 1 hal 81.)

Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh, lainnya menembaki dengan panah-panah hingga mereka berjatuhan dari menara, lainnya menyiksa mereka dengan memasukkannya ke dalam api yang menyala. Tumpukan kepala-kepala, tangan dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda…” (Hidayatullah.com , Keteladanan Shalahuddin Ayyubi) bahkan menurut beberapa sumber hingga menyebabkan sungai darah setinggi mata kaki, di waktu itu 70.000 kaum Muslimin dibantai.

Perang Salib II dipicu serangan Arnath atau Reynald d’ Chattillon pada rombongan Haji dan hinaannya pada nabi (582H). Mendengar itu Saladin bersumpah untuk membunuhnya dengan tangannya sendiri dan pecahlah perang yang diakhiri kemenangan besar Muslim di bukit Hithin 10.000-15.000 Salibis tewas, Saladin membunuh Arnath dengan  scimitarnya sendiri sesuai sumpahnya dan akhirnya Al-Quds dapat kembali ke tangan Muslim setelah seminggu pengepungan dan 88 tahun dalam cengkeraman Salibis. 


Namanya tersiar ke seluruh penjuru Eropa lewat mulut kaum Ibu, mereka menjadikan Saladin sebagai sosok untuk menakut-nakuti anak mereka, walau sebetulnya Saladin sangat lembut terhadap wanita. Ia membebaskan kaum non-muslim di Al-quds dengan imbalan 10 dinar bagi lelaki 5 dinar bagi wanita dan 2 dinar bagi anak-anak. Meskipun dalam realisasinya ternyata jauh lebih mengejutkan, karena sebagian kaum wanita meminta belas kasihan Saladin untuk membebaskan para lelakinya. Melihat itu ia iba dan membebaskan tanpa syarat hingga 10.000 orang, bahkan memerintah sebagian pasukannya mengawal para pengungsi ke wilayah-wilayah Kristen.

Pun dengan seorang kaya raya yang semena-mena dan tamak pensehat Saladin bertanya, “Kenapa engkau tidak menangkapnya dan mengambil hartanya untuk membantu biaya perang?” dijawab “Aku tidak mengambil darinya kecuali 10 dinar.” Ini menunjukkan dirinya konsisten atas pernyataannya.

Sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan kaum Salibis ketika mencengkram Baitul Maqdis, tak ada tempat beribadah yang dikotori dan tiada yang disiksa. Ini menunjukkan pribadi beliau yang memiliki akhlak yang tinggi, bukan berarti ia tak sungguh-sungguh dalam penaklukannya justru ia sangat bersungguh-sungguh dalam pembebasan Al-Quds hingga diriwayatkan beliau –rahimahullah- tidak makan kecuali sedikit dari Jum’at hingga Minggu karena dalam pikirannya hanya pembebasan Al-Quds.

Para jenderalnya bertanya mengapa ia tidak makan? ,”Bagaimana aku bisa makan sementara Al-Quds masih dalam cengkeraman Salibis.” Bahkan menurut beberpa sumber ”Bagaimana aku bisa tertawa sementara Al-Quds masih dalam cengkeraman Salibis.” 

Kemurahan hatinya juga tampak pada Perang Salib III ketika lawan terberatnya Richard The Lion Heart jatuh sakit ia mengirimnya buah-buahan guna menghiburnya. Padahal Richard telah melakukan kedzaliman yaitu membunuh 3.000 kaum muslim di Akka (Acre) dalam invasinya.

Ia juga merupakan orang shalih yang taat agama, ia tak pernah meninggalkan sholat kecuali 3 hari dimana ia pingsan menjelang ajalnya. Ia cinta terhadap hukum Islam dan membenci pemikiran-pemikiran  juga filsafat-filsafat asing yang merosak agama. dan tak segan pula menghukum mati mereka yang menentang hukum Islam.

Kisah akhir hayatnya juga tidak kalah mengharukan, ketika ia menemui rombongan kafilah yang pulang dari Haji, Saladin menyampaikan salah satu keinginan terbesarnya yaitu pergi haji bersama mereka. Ketika itu Ia jatuh sakit akibat penyakit kuning. Berhari-hari ia terbaring hingga keringatnya membasahi tempat tidurnya.

Bahkan sebagai seorang Raja yang luar biasa ia hanya meninggalkan 47 dirham dan secuil emas, tidak meninggalkan peti emas, ladang dan kebun melainkan hanya itu tadi. Hidupnya lebih sering ia habiskan di tenda-tenda daripada kursi tahta. Ia sering mencurahkan isi hatinya dan taukah yang beliau curhatkan pun berkisar pada Jihad dan persiapan-persiapannya (bisa jadi bosan kita jika berbincang dengan beliau kerana hanya masalah jihad yang sering dibahas), juga kebenciannya pada orang yang yang kufur.
Subhanallah. Sebenarnya masih banyak lagi sifatnya tapi kepanjangan kalau saya tulis disini.


Salah satu Syairnya yang akan Ukhuwah
“Wahai orang-orang yang jauh dari kami
Meski jauh di mata tetapi dekat di hati
Tak pernah kulihat sejak kalian pergi
Namun, kalian tetap hadir dalam mata hati”

Semacam inilah yang seharusnya dikagumi pemuda Muslim, yang betul-betul teruji pantang menyerah dan optimismenya. Banyak kok yang pantas dijadikan teladan bagi kaum Muda Muslim, untuk kisah cinta kita memiliki Ali dan Fatimah atau Salman Al-Farisi (walau ditolak) apa kawan-kawan lebih memilih Romeo dan Juliet ataupun serial Twillight??? Untuk pahlawan kita punya Ja’far bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, Khalid bin Walid apa kawan-kawan lebih kagum pada Makhluk ijo ga pake baju, Orang yang pake celana dalam merah diluar, atau Manusia setrika???
Sekarang Suriah sedang berkelut, Al-Quds bumi Palestine dalam cengkeraman musuh kawan-kawan kita disana sedang meneriakkan ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid’ membutuhkan do’a kita. Sedang kita disini berkelut pada hal-hal yang (entah kata apa yang bisa digunakan untuk mengungkapkannya) ‘Yo wes ngono iku’. Untuk mendo’akan mereka saja kita berat apalagi menyampaikan penderitaan yang dialami mereka pada kawan-kawan kita disini yang tidak tahu ‘Suriah dimana’. (Bagaimana Umat Islam mau maju, kalau penderitaan yang mereka alami sama sekali tak terasa di hati???)
…..
“Ya Allah, jika jiwa kami telah bersatu padu
Anugerahkan pengayom yang Engkau ridhai
Pembawa kembali sejarah Islam dulu
Penjaga rakyat yang selalu Engkau awasi”


Pradika Annas (Aja) K,,, 29 Juni 2012

4 komentar:

  1. bro gak ada share donk link buat download filmnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhhh,,, afwan ane sendiri ga punya bro, hehe

      Hapus
  2. kisah inspiratif buat kita generasi penerus muslim..
    "ALLAHUAKBAR"

    BalasHapus

Jumat, 29 Juni 2012

Saladin The Wise


Teringat beberapa waktu lalu di salah satu stasiun TV menayangkan riwayat singkat tentang jenderal-jenderal perang paling hebat sepanjang sejarah. Wah, saya palingkan semua perhatian menuju TV dalam fikiran, ‘wah pasti jika bukan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmed II) maka setidaknya Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi harus masuk dalam salah satunya. ‘

Tapi alangkah kecewa dan heran saya, kerana hingga akhir sesi tiada satupun nama Muslimin tercantum di sana. Saya bukalah FB ternyata ada beberapa ‘kawan Dakwah’ yang menuliskan kekecewaan yang sama pada status FB-nya. Heran betul saya, entah apa mungkin penilaian semacam itu sudah objektif atau ada ‘agenda-agenda tertentu’ terkait penenggelaman sejarah emas Umat Islam (Wallahu A’alam).

Ini pun berdampak negative terhadap figuritas yang dimiliki pemuda Muslim, sebagian condong memfigurkan Ladi Gaga dengan segala kontroversinya maupun Justin Bieber yang didaulat sebagai calon Michael Jackson II. Ketika kedua tokoh itu dikritik habis-habisan dah yang membela, untuk membeli tiketnya mereka rela keluar uang besar, antre dari pagi dsb. Jelas-jelas para pemuda sudah salah memilih orang sebagai ‘uswatun hasanah’nya . Apakah mereka sedia melakukan itu untuk kemajuan (jangan agama dulu nanti terlalu muluk) bangsa, sector pendidikan dengan menabung membeli buku maupun semacamnya…


Apalagi jika hal itu dilakukan pemuda Muslim, katanya sih karena tokoh tersebut mengajarkan pantang menyerah dan optimism. Seberapa hebat sih moral value mereka dibanding pengaruh negatifnya? Seberapa hebat nama mereka akan terkenang dalam sejarah seperti Pahlawan Hithin Dan Pembela Al-Quds ini???

Shalahuddin bin Yusuf bin Ayyub lah namanya, Shalahuddin Al-Ayyubi kita biasa mendengarnya, Saladin bagi lidah orang-orang Europa. Berasal dari kaum Kurdistan (Sekitar Utara Irak). 532H/1137M lahir dari keluarga terhormat yang memiliki hubungan erat dengan para petinggi di Baghdad.

Tumbuh bersama keluarga kerajaan yang tidak lepas dari pendidikan perang maupun akidah yang kokoh. Tumbuh beserta para ksatria, salah satu jabatan pertamanya adalah mulai dari Kepala Keamanan di Damaskus hingga memegang kuasa di Kairo Ia lalui dengan apik. Hingga pada suatu saat  rakyat Damaskus memintanya datang untuk menghentikan arus kehancuran Suriah akibat perang saudara dan bayang-bayang kaum Salibis.

Melalui kebijakan-kebijakan politik yang bagus akhirnya ia mempersatukan wilayah-wilayah umat Islam hingga membentuk kerajaan yang membentang dari dari Kurdistan, Suriah, Mesir, Barqa dan wilayah-wilayah di utara Afrika. Dan mempersiapkan mimpinya yaitu Pembebasan atas Al-Quds.

Perang Salib
Adalah agresi kaum Kristen Europa selama kurang lebih  dua abad di bumi Islam. Beberapa sebab dan motifnya adalah.

  • -          Dendam bangsa Cristian Europa terhadap Muslim.
  • -          Permintaan Kaisar Alexis Comnenus.
  • -          Kebohongan dan ke-lebay-an yang dibuat-buat para peziarah Chirstian sepulang dari Baitul Maqdis.
Tabuhan genderang perang ditabuh oleh sang Paus berisi ajakan kepada seluruh kaum Europa untuk mengadakan ‘Holy War’ merebut Al-Quds dari tangan Muslim disiarkan melalui gereja-gereja guna membakar semangat Kristen Europa. Dan akhirnya berhasil mendudukinya pada 492H/1099M akibat kondisi umat Muslim yang pelik kerana pertentangan, perang saudara, juga dengan merajalelanya bid’ah-bid’ah masa Dinasti Fathimiyah.

Kondisi yang sangat miris akhirnya tergambarkan, di bumi Al-Quds, “Adapun mereka orang-orang yang dibiarkan hidup oleh pasukan Eropa karena hartanya saja akhirnya mereka pun dibunuh tanpa peduli dan tanpa belas kasihan hingga orang-orang Islam terpaksa bunuh diri dengan melemparkan diri dari rumah-rumah mereka. Sebagian ada yang dibakar hidup-hidup. Sebagian yang lain diseret dari persembunyian mereka ke alun-alun dan dibunuh satu per satu. Cucuran air mata kaum wanita, jeritan tangis anak-anak, dan kesucian tempat Isa mengampuni orang-orang yang membunuhnya tidak meredakan emosi kaum Kristen.”( PHDPA cet 1 hal 81.)

Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh, lainnya menembaki dengan panah-panah hingga mereka berjatuhan dari menara, lainnya menyiksa mereka dengan memasukkannya ke dalam api yang menyala. Tumpukan kepala-kepala, tangan dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda…” (Hidayatullah.com , Keteladanan Shalahuddin Ayyubi) bahkan menurut beberapa sumber hingga menyebabkan sungai darah setinggi mata kaki, di waktu itu 70.000 kaum Muslimin dibantai.

Perang Salib II dipicu serangan Arnath atau Reynald d’ Chattillon pada rombongan Haji dan hinaannya pada nabi (582H). Mendengar itu Saladin bersumpah untuk membunuhnya dengan tangannya sendiri dan pecahlah perang yang diakhiri kemenangan besar Muslim di bukit Hithin 10.000-15.000 Salibis tewas, Saladin membunuh Arnath dengan  scimitarnya sendiri sesuai sumpahnya dan akhirnya Al-Quds dapat kembali ke tangan Muslim setelah seminggu pengepungan dan 88 tahun dalam cengkeraman Salibis. 


Namanya tersiar ke seluruh penjuru Eropa lewat mulut kaum Ibu, mereka menjadikan Saladin sebagai sosok untuk menakut-nakuti anak mereka, walau sebetulnya Saladin sangat lembut terhadap wanita. Ia membebaskan kaum non-muslim di Al-quds dengan imbalan 10 dinar bagi lelaki 5 dinar bagi wanita dan 2 dinar bagi anak-anak. Meskipun dalam realisasinya ternyata jauh lebih mengejutkan, karena sebagian kaum wanita meminta belas kasihan Saladin untuk membebaskan para lelakinya. Melihat itu ia iba dan membebaskan tanpa syarat hingga 10.000 orang, bahkan memerintah sebagian pasukannya mengawal para pengungsi ke wilayah-wilayah Kristen.

Pun dengan seorang kaya raya yang semena-mena dan tamak pensehat Saladin bertanya, “Kenapa engkau tidak menangkapnya dan mengambil hartanya untuk membantu biaya perang?” dijawab “Aku tidak mengambil darinya kecuali 10 dinar.” Ini menunjukkan dirinya konsisten atas pernyataannya.

Sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan kaum Salibis ketika mencengkram Baitul Maqdis, tak ada tempat beribadah yang dikotori dan tiada yang disiksa. Ini menunjukkan pribadi beliau yang memiliki akhlak yang tinggi, bukan berarti ia tak sungguh-sungguh dalam penaklukannya justru ia sangat bersungguh-sungguh dalam pembebasan Al-Quds hingga diriwayatkan beliau –rahimahullah- tidak makan kecuali sedikit dari Jum’at hingga Minggu karena dalam pikirannya hanya pembebasan Al-Quds.

Para jenderalnya bertanya mengapa ia tidak makan? ,”Bagaimana aku bisa makan sementara Al-Quds masih dalam cengkeraman Salibis.” Bahkan menurut beberpa sumber ”Bagaimana aku bisa tertawa sementara Al-Quds masih dalam cengkeraman Salibis.” 

Kemurahan hatinya juga tampak pada Perang Salib III ketika lawan terberatnya Richard The Lion Heart jatuh sakit ia mengirimnya buah-buahan guna menghiburnya. Padahal Richard telah melakukan kedzaliman yaitu membunuh 3.000 kaum muslim di Akka (Acre) dalam invasinya.

Ia juga merupakan orang shalih yang taat agama, ia tak pernah meninggalkan sholat kecuali 3 hari dimana ia pingsan menjelang ajalnya. Ia cinta terhadap hukum Islam dan membenci pemikiran-pemikiran  juga filsafat-filsafat asing yang merosak agama. dan tak segan pula menghukum mati mereka yang menentang hukum Islam.

Kisah akhir hayatnya juga tidak kalah mengharukan, ketika ia menemui rombongan kafilah yang pulang dari Haji, Saladin menyampaikan salah satu keinginan terbesarnya yaitu pergi haji bersama mereka. Ketika itu Ia jatuh sakit akibat penyakit kuning. Berhari-hari ia terbaring hingga keringatnya membasahi tempat tidurnya.

Bahkan sebagai seorang Raja yang luar biasa ia hanya meninggalkan 47 dirham dan secuil emas, tidak meninggalkan peti emas, ladang dan kebun melainkan hanya itu tadi. Hidupnya lebih sering ia habiskan di tenda-tenda daripada kursi tahta. Ia sering mencurahkan isi hatinya dan taukah yang beliau curhatkan pun berkisar pada Jihad dan persiapan-persiapannya (bisa jadi bosan kita jika berbincang dengan beliau kerana hanya masalah jihad yang sering dibahas), juga kebenciannya pada orang yang yang kufur.
Subhanallah. Sebenarnya masih banyak lagi sifatnya tapi kepanjangan kalau saya tulis disini.


Salah satu Syairnya yang akan Ukhuwah
“Wahai orang-orang yang jauh dari kami
Meski jauh di mata tetapi dekat di hati
Tak pernah kulihat sejak kalian pergi
Namun, kalian tetap hadir dalam mata hati”

Semacam inilah yang seharusnya dikagumi pemuda Muslim, yang betul-betul teruji pantang menyerah dan optimismenya. Banyak kok yang pantas dijadikan teladan bagi kaum Muda Muslim, untuk kisah cinta kita memiliki Ali dan Fatimah atau Salman Al-Farisi (walau ditolak) apa kawan-kawan lebih memilih Romeo dan Juliet ataupun serial Twillight??? Untuk pahlawan kita punya Ja’far bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, Khalid bin Walid apa kawan-kawan lebih kagum pada Makhluk ijo ga pake baju, Orang yang pake celana dalam merah diluar, atau Manusia setrika???
Sekarang Suriah sedang berkelut, Al-Quds bumi Palestine dalam cengkeraman musuh kawan-kawan kita disana sedang meneriakkan ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid’ membutuhkan do’a kita. Sedang kita disini berkelut pada hal-hal yang (entah kata apa yang bisa digunakan untuk mengungkapkannya) ‘Yo wes ngono iku’. Untuk mendo’akan mereka saja kita berat apalagi menyampaikan penderitaan yang dialami mereka pada kawan-kawan kita disini yang tidak tahu ‘Suriah dimana’. (Bagaimana Umat Islam mau maju, kalau penderitaan yang mereka alami sama sekali tak terasa di hati???)
…..
“Ya Allah, jika jiwa kami telah bersatu padu
Anugerahkan pengayom yang Engkau ridhai
Pembawa kembali sejarah Islam dulu
Penjaga rakyat yang selalu Engkau awasi”


Pradika Annas (Aja) K,,, 29 Juni 2012

4 komentar:

  1. bro gak ada share donk link buat download filmnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhhh,,, afwan ane sendiri ga punya bro, hehe

      Hapus
  2. kisah inspiratif buat kita generasi penerus muslim..
    "ALLAHUAKBAR"

    BalasHapus