Jumat, 19 Juli 2013

Transportasi Negara Maju Itu…



Sebuah kutipan yang cukup menarik saya temui di salah satu forum Facebook sebenarnya kutipan ini sangat sederhana pun juga tidak 100% kebenarannya tapi sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana Negara maju itu.

Kutipannya seperti berikut ini
“Sebuah Negara yang maju bukanlah Negara yang dimana orang miskinnya memiliki mobil -pribadi- melainkan dimana orang kayanya menggunakan transportasi umum.”
Bagi saya kutipan diatas sangat benar dengan apa yang sering kita baca tentang kebiasaan Negara-negara maju.

1.       Adalah hal yang tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pengguna transportasi umum (yang saya amati di Surabaya) adalah mereka yang penampilannya mencerminkan ekonomi menengah hingga menengah ke bawah. Coba saja kalau tidak percaya sekali-kali cobalah menggunakan angkutan kota. Maka lihatlah sendiri bagaimana ‘kondisi’ para penggunanya.


2.       Untuk kalangan menengah ke atas ataupun yang ingin ke atas cenderung lebih ‘nyaman’ memakai kendaraan pribadi. Baik yang beroda dua maupun beroda empat. Hal ini sudah barang tentu menambah padat pengguna jalan raya. Apalagi jika satu kendaraan hanya untuk satu orang bukan satu tujuan.

Dari dua poin di atas disebabkan beberapa faktor yang saling berkaitan beberapa diantaranya adalah fasilitas penunjang maupun pola pikir. Keterkaitannya sederhana yaitu apakah fasilitas public transport yang sedemikian kurang hingga menimbulkan pola pikir seperti itu atau sebaliknya ataupun malah saling berkaitan.
Pola pikir di sini contohnya adalah…

-          Orang sukses ataupun orang berada di citrakan dengan pulang kampung membawa mobil hasil kerja kerasnya. Kalau pulang kampung tak membawa kendaraan pribadi berarti belum sukses.
-          Lalu membawa kendaraan pribadi lebih hemat. Sebenarnya yang ini tergantung bagaimana mengatur uang. Untuk pelajar saya rasa 5 ribu rupiah sudah bisa menempuh jarak cukup jauh mungkin sebnding dengan 81% BBM premium + perawatan motor.

-          Kesibukan, untuk pelajar yang tampak sibuk sudah pasti lebih cepat lebih baik. Misal jam 06.00 harus berangkat sekolah. Jam 15.00 mengikuti les malamnya ada kerja kelompok yang deadlinenya esok hari. (ini hanya contoh kasar)
-          Yang terakhir lebih keren mana orang yang turun dari angkot atau mobil pribadi.
Lalu dengan fasilitas…

Sebenarnya tak perlu membandingkan dengan Negara lain. kalau disini..
-          Kadang menunggu angkot ngetem bisa lamanya antara 15-30 menit. Sangat tidak ideal bagi mereka yang tidak bisa managemen waktu.
-          Kebiasaan lain adalah memasukkan penumpang walau sudah over capacity.
-          Trayeknya tidak efisien. Karena mungkin melalui jalur yang padat dengan calon penumpang bukan jalur paling efektif.
-          Sama sekali tidak nyaman kala cuaca panas.
-          Dsb.

Jadi yang mana yang harus diperbaiki??? Dua-duanya. Dan tanya pada diri sendiri jika fasilitas kian bertambah bagus sudah pastikah memilih angkutan umum???
12 July 2013 ‘sepintas opini’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumat, 19 Juli 2013

Transportasi Negara Maju Itu…



Sebuah kutipan yang cukup menarik saya temui di salah satu forum Facebook sebenarnya kutipan ini sangat sederhana pun juga tidak 100% kebenarannya tapi sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana Negara maju itu.

Kutipannya seperti berikut ini
“Sebuah Negara yang maju bukanlah Negara yang dimana orang miskinnya memiliki mobil -pribadi- melainkan dimana orang kayanya menggunakan transportasi umum.”
Bagi saya kutipan diatas sangat benar dengan apa yang sering kita baca tentang kebiasaan Negara-negara maju.

1.       Adalah hal yang tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pengguna transportasi umum (yang saya amati di Surabaya) adalah mereka yang penampilannya mencerminkan ekonomi menengah hingga menengah ke bawah. Coba saja kalau tidak percaya sekali-kali cobalah menggunakan angkutan kota. Maka lihatlah sendiri bagaimana ‘kondisi’ para penggunanya.


2.       Untuk kalangan menengah ke atas ataupun yang ingin ke atas cenderung lebih ‘nyaman’ memakai kendaraan pribadi. Baik yang beroda dua maupun beroda empat. Hal ini sudah barang tentu menambah padat pengguna jalan raya. Apalagi jika satu kendaraan hanya untuk satu orang bukan satu tujuan.

Dari dua poin di atas disebabkan beberapa faktor yang saling berkaitan beberapa diantaranya adalah fasilitas penunjang maupun pola pikir. Keterkaitannya sederhana yaitu apakah fasilitas public transport yang sedemikian kurang hingga menimbulkan pola pikir seperti itu atau sebaliknya ataupun malah saling berkaitan.
Pola pikir di sini contohnya adalah…

-          Orang sukses ataupun orang berada di citrakan dengan pulang kampung membawa mobil hasil kerja kerasnya. Kalau pulang kampung tak membawa kendaraan pribadi berarti belum sukses.
-          Lalu membawa kendaraan pribadi lebih hemat. Sebenarnya yang ini tergantung bagaimana mengatur uang. Untuk pelajar saya rasa 5 ribu rupiah sudah bisa menempuh jarak cukup jauh mungkin sebnding dengan 81% BBM premium + perawatan motor.

-          Kesibukan, untuk pelajar yang tampak sibuk sudah pasti lebih cepat lebih baik. Misal jam 06.00 harus berangkat sekolah. Jam 15.00 mengikuti les malamnya ada kerja kelompok yang deadlinenya esok hari. (ini hanya contoh kasar)
-          Yang terakhir lebih keren mana orang yang turun dari angkot atau mobil pribadi.
Lalu dengan fasilitas…

Sebenarnya tak perlu membandingkan dengan Negara lain. kalau disini..
-          Kadang menunggu angkot ngetem bisa lamanya antara 15-30 menit. Sangat tidak ideal bagi mereka yang tidak bisa managemen waktu.
-          Kebiasaan lain adalah memasukkan penumpang walau sudah over capacity.
-          Trayeknya tidak efisien. Karena mungkin melalui jalur yang padat dengan calon penumpang bukan jalur paling efektif.
-          Sama sekali tidak nyaman kala cuaca panas.
-          Dsb.

Jadi yang mana yang harus diperbaiki??? Dua-duanya. Dan tanya pada diri sendiri jika fasilitas kian bertambah bagus sudah pastikah memilih angkutan umum???
12 July 2013 ‘sepintas opini’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar